“Semua berantakan Mbok. Hidupku berantakan. Mama-Papa, teman-teman, dan semuanya menjauhiku. Tinggal Mbok Minah saja sekarang.”
“Bisa jadi Allah lebih sayang kamu untuk punya waktu merenungkan masa lalu,” nasihat Mbok Minah sembari keluar kamar.
Surat Al-Mulk masih bergema di kamarnya. Jingga mulai merenungi masa lalunya; tak terasa mulai keluar lagi bulir-bulir air mata. Jingga teringat kata-kata kasarnya pada Papa-Mamanya saat tidak dibelikan HP terbaru atau tidak mengucapkan kata terima kasih saat Papanya membelikan tas yang kurang diminati sesampai pulang tugas luar kota. Jingga juga mulai teringat kelakuan buruknya di sekolah: tidak menghormati guru, hanya mau bergaul pada teman-teman yang kaya, bolos pelajaran, atau malah keluyuran ke mall bersama genknya saat jam les tiba.

“Aku ingin berubah. Aku harus berubah,” batinnya sembari mengecilkan suara tapenya saat mendengar azan maghrib berkumandang.
“Jingga, ayo kita salat dulu!” ajak Mbok Minah.
“Ajari aku ya, Mbok. Jingga ingin diajari salat dan mengaji.”
“Alhamdulillah. Mbok terharu sekali.”
Hari-hari berikutnya seperti itulah rutinitas yang dilakukan Jingga bersama Mbok Minah. Jingga yang sewaktu SD dulu sudah bisa membaca Al-Quran seolah membuka file-file lama tentang bacaannya. Pelan-pelan ia mulai bisa menirukan bacaan yang disuarakan Mbok Minah.
“Mbok Minah ternyata pandai mengaji juga,” puji Jingga.
“Jelek-jelek gini Mbok juga pernah sekolah. Sampai PGA 4 tahun. Terus langsung dinikahkan oleh orang tua Mbok,” jawab Mbok Minah sembari tersipu.
“Tapi suara dan bacaan Mbok bagus.”
“Alhamdulillah. Dulu juga sempat di pesantren.”
“Bagaimana ya Mbok hidup di pesantren? Kalau seperti Jingga apa bisa masuk pesantren?”
“Kenapa Non Jingga tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Jingga ingin banyak belajar agama.”
“Kalau sudah sembuh dan diizinkan Papa-Mama, Non Jingga saya ajak ke sana! Yang penting harus sembuh dulu.”
Diputarnya kini Surat Ar-Rahman. Perlahan ia mulai tersadar harus mengakhiri catatan buram masa lalu. Jingga benar-benar terlahir kembali.
Sosok Mbok Minah yang sederhana justru semakin dipatuhinya. Padahal, dulu Jingga hanya menganggap Mbok Minah adalah sosok pembantu yang tidak perlu dihormati dan justru pembantu itu yang harus hormat. Bisa jadi ini semua jalan dari Allah agar ia menjadi manusia yang lebih baik lagi.
***
Tak terasa, sudah hari ketiga Papa-Mamanya belum pulang ke rumah. Di sela-sela istirahatnya, Jingga selalu memutar bacaan ayat-ayat suci. Bibirnya mulai perlahan menirukan bacaan-bacaan itu. Salat fardlu pun selalu dikerjakannya secara berjamaah bersama Mbok Minah. Jingga pun mulai menutup auratnya.
