Tanda Mata untuk Jingga

“Jingga, apa kabar Nak?” demikian kalimat pertama Mama melalui HP.

“Ucapkan Assalamualaikum dulu Ma untukmengawali pembicaraan. Jingga baik-baik saja, Ma. Semoga Mama Papa juga baik-baik saja di sana,” jawab Jingga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jingga, Mama-Papa menunggumu sekarang ya di rumah sakit. Sudah ada ambulance yang akan menjemputmu,”suara Mama terlihat dalam kepanikan.

Mbok Minah mengetuk pintu kamarnya. Petugas kesehatan sudah tiba di rumahnya. Jingga mulai bingung dengan semua ini.

“Ada apa? Jingga bukan pasien Corona, kan?” tanya Jingga.

“Jingga ikuti saja ya. Ini demi kebaikan Non Jingga,” ucapan Mbok Minah meyakinkan.

Dengan ambulance, Jingga dibawa menuju rumah sakit. Ia langsung dibawa masuk ruangan. Tak nampak Papa-Mama mengikuti. Hanya Mbok Minah yang terus melafalkan doa dan berada di belakangnya. Jingga semakin bingung; tapi ia mulai pasrah dan yakin semua akan baik-baik saja.

Jingga langsung masuk ke kamar operasi. Kali ini ia tampak sendiri; karena hanya diikuti oleh beberapa perawat yang telah berpakaian lengkap. Jingga disuruh memejamkan mata. Dan ia pun menurutinya. Gelap sekali menyelimuti. Entah berapa lama, Jingga tertahan di ruangan itu.

“Alhamdulillah Ya Robbi. Jingga sudah bisa melihat lagi,” kalimat yang Jingga ucapkan kala membuka matanya.
Tampak di sebelahnya sudah ada Mama, Papa, dan Mbok Minah. Jingga merasa aneh dengan semuanya. Beberapa perawat yang masih berpakaian operasi lengkap masih setia di ruangan itu.

“Jingga sudah bisa melihat lagi Ma, Pa! Jingga sudah sembuh!” kata Jingga lagi dengan binar matanya.

Mama memeluk Jingga dengan eratnya. Pelukan yang sudah lama tidak dilakukan keduanya. Jingga merasa terlahir seperti bayi. Bisa jadi seperti 17 tahun yang lalu.

“Syukurlah kamu kembali seperti semula,” kata Papa.

“Mengapa aku harus di tempat seperti ini? Ada apa dengan semua ini? Mengapa tidak di rumah kita saja?” tanya Jingga yang masih belum paham kejadian ini.

Dengan berlinang air mata, Mama menceritakan semuanya. Bagaimana Mama-Papa juga begitu terpukul melihat Jingga kabur penglihatannya karena kecelakaan. Akhirnya, keduanya terus mencari pendonor mata yang sesuai. Semua yayasan, keluarga, kolega, dan kenalan dihubunginya. Dan akhirnya semua terjawab sudah seperti hari ini.

“Jadi ini hadiah Papa-Mama di hari ulang tahun Jingga? Terima kasih untuk semuanya!”

Ketiganya pun berpelukan. Mbok Minah yang sedari tadi terdiam, kini pun melinangkan air mata. Diusapnya berkali-kali dengan jemarinya yang sudah penuh kerutan dan kapalan. Jingga pun tak membiarkan Mbok Minah yang seolah menjelma menjadi malaikat dalam hidupnya. Dipeluknya pula Mbok Minah dengan eratnya.

“Terima kasih Papa, Mama, dan Mbok Minah. Jingga boleh minta sesuatu sama Mama-Papa?” tanya Jingga.

“Apa Nak? Semua akan Mama-Papa usahakan untuk kebahagiaan Jingga,” jawab Mama.

“Jingga ingin menuntut ilmu di pesantren.”

Tinggalkan Balasan