“Biarkan dia mendefinisikan diri” adalah pesan paling penting untuk dikemukakan. Dengan mengungkap liku-liku kesaksian (pengalaman) dan sejarah hidup seorang tandak, catatan ini tak hendak mengajukan definisi, apalagi mengklaim sebagai satu-satunya yang benar. Sebaliknya, ia hanyalah bermaksud menyampaikan kekayaan etnografis tandak, sesuatu yang akan selalu diperlukan untuk memahaminya lebih arif dan bijak.
Justru, peran-peran tandak dalam formasi sosial (kungkungan patriarkhi), seperti yang tersaji dalam berbagai laporan jurnalistik selama ini, haruslah dipahami sebagai upaya serius para tandak, sadar atau tidak sadar, untuk merumuskan dan mendefinisikan diri dalam konteks kehidupan yang dinamik dan kompleks. Tandak memang tidak terbiasa membuat rumusan-rumusan “sistematis” seperti layaknya seorang ilmuwan atau teknokrat, tetapi langkah-langkah dan kepakan sayap seorang tandak menyisir hidup sudah cukup menjadi bukti betapa ia serius berusaha dan mampu merumuskan diri, bahkan rumusan itu tampak lebih genial.

Membaca kesaksian tandak dari waktu ke waktu, terkesan kuat bahwa rumusan dan definisi tentang dirinya selalu berubah, tidak membeku dalam suatu titik, dan selalu plural. Jika kesan itu benar, maka bukankah rumusan dan definisi tandak oleh dirinya sendiri itu yang sebenarnya lebih realistis, di samping lebih manusiawi. Dengan demikian, membiarkan tandak mendefinisikan diri bukan hanya sekadar kemestian, tetapi juga lebih penting ketimbang mengungkungnya dalam rumusan dan definisi kita, orang-orang eksternal. Karena, pada sisi yang lain, hal itu berarti kita telah menempatkan tandak sebagai subyek sejarah.
