“Memang Tuhan tak memberi uang pada pengemisnya.”
“Gila! Dasar sinting!” petugas itu mengumpat dan meninggalkannya sendirian di ruang pemeriksaan.

Petugas akhirnya menyita seluruh peralatan para pengemis itu. Ketika para petugas sedang sibuk menghitung uang yang dikumpulkan dari para peminta-minta di ruangan lain, secara misterius pengemis kita sudah tak ada di sana. Seperti ditelan bumi begitu saja. Tapi, beberapa hari kemudian, ia telah kembali ke jalanan. Namun, kali ini ia tak lagi mendorong atau menyeret gerobak. Ia hanya mencangklong peralatan karaoke portabel di bahu kanannya dan dibahu kirinya tersampir kantung wadah uang.
Melalui peralatan itulah, seperti beberapa pengemis lainnya, sambil menyusuri jalan, ia terus menerus melantunkan ayat-ayat suci, selawat nabi, atau puji-pujian yang sering kaudengar dari langgar di dusun-dusun. Memang dengan cara seperti itulah para pengemis banyak mendulang uang. Tapi jika punya mata elang, jeli mengamati apa yang terpandang, kau akan tahu bahwa pengemis kita ini memang berbeda dengan yang lainnya.
Lihatlah, ia hanya terus berjalan, menyusuri jalanan dengan langkah yang ritmis, tanpa menghiraukan orang-orang atau apa saja yang ada di sekelilingnya. Jika pengemis lain akan berhenti lalu menadahkan tangan saat berpapasan dengan orang lain, tidak demikian dengan pengemis kita ini. Jika pengemis lain akan berbelok arah untuk menghampiri orang yang duduk di seberang jalan lalu menyodorkan kantung wadah uang, tidak demikian dengan pengemis kita ini. Ia, secara misterius, justru menghindar ketika terlihat ada seseorang hendak mendermakan uang recehan.
Lalu dengarlah suaranya. Jika pengemis lain suaranya dibuat-buat sedemikian rupa saat melantunkan ayat-ayat suci, selawat nabi, atau puji-pujian agar kau terharu dan sudi bersedekah, tidak demikian dengan pengemis kita ini. Dengarlah, suaranya terdengar begitu misterius. Kadang terdengar seperti orang sedang bernyanyi. Ia melagukan ayat-ayat suci atau selawat nabi. Sesekali hanya terdengar seperti orang sedang bersenandung. Tapi kadang yang terdengar dari mulutnya seperti suara tangisan meskipun yang diucapkan kalimat-kalimat yang sama belaka. Jerit tangis yang sungguh menyayat-nyayat hati. Di sepanjang jalan yang ia lintasi, suaranya akan selalu terdengar semesterius itu.
Dan kau akan menganggap ia sebagai pengemis misterius. Mungkin benar demikian. Sebab, sekalipun memiliki mata elang, kau tak akan pernah secara gamblang bisa melihat wajahnya, melihat rupanya. Kau akan sia-sia untuk memastikan kecantikan wajahnya atau keburukan rupanya. Sebab, wajahnya selalu hanya akan terlihat seperti siluet. Entah benda apa yang menutupinya. Tapi siluet itu terus bergerak ke mana kakinya melangkah. Bisa disebut, pengemis kita ini adalah perempuan berwajah siluet. Kau tetap tak tahu apa-apa tentangnya sampai suatu hari ada seorang lelaki yang menggandeng anaknya berdiri di pinggir jalan seperti sedang mengadang seseorang.
Lelaki itu biasa disebut Romo Kiai, dan bocah yang digandengnya itu biasa dipanggil Gus Kecil. Mereka terlihat keluar dari pintu gerbang pesantren di kawasan Ciganjur. Setelah berjalan kaki beberapa waktu, mereka sampai di tempat berdiri saat ini, di sisi dalam pinggir jalan yang ramai lalu lintasnya.
“Kita mau ke mana, sih, Romo?” tangan Gus Kecil memegangi tangan ayahnya.
“Cari angin, lihat-lihat pemandangan. Di rumah terus bosan, kan, Gus.”
Saat itulah suara misterius seperti nyanyian seperti tangisan lamat-lamat mulai terdengar. Lelaki itu berdiri dengan khusyuk, namun si bocah bola matanya berputar-putar menyaksikan ramainya jalanan. Setiap ada yang melintas di depannya ditelanjangi dengan matanya. Dan, ketika seorang pengemis melintas di depannya, ia melepas tangan ayahnya, dan hendak berlari mengejar si pengemis.
“Eh, jangan!” lelaki itu menarik tangan anaknya.
“Kenapa Romo? Aku mau bersedekah pada pengemis itu, seperti yang Romo ajarkan,” Gus Kecil merengek.
“Jangan ganggu dia.”
