Jihad para santri saat ini tentu semakin berat. Selain kemampuan pada penguasaan keislaman, juga diharapkan memiliki keluasan cakrawala dalam beragam perspektif keilmuan. Sebab, mereka akan dihadapkan pada penyelesaian persoalan masyarakat di mana mereka hidup.
Dan saat ini, tantangan bagi para santri tentu lebih kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Mereka akan bergelut dengan isu-isu sosial kemasyarakatan, lingkungan, politik, ekonomi, dan kebangsaan yang lebih rumit dibanding dengan masa lalu. Modalitas yang didapat para santri ketika ditempa di pesantren sesungguhnya sangat berarti bagi realitas kebangsaan kini. Apalagi jika dikuatkan dengan kapasitas yang dimiliki di beragam bidang kehidupan.

Di era digital, misalnya saja, para santri bisa mengisi ruang diskusi di dunia maya dengan beragam konten yang mencerahkan. Ruang-ruang media sosial yang selama ini cenderung gaduh sepatutnya diisi oleh beragam konten yang lebih produktif. Peluang santri mengisi beragam konten tersebut sangatlah terbuka.
Kehadiran kanal daring, misalnya, menjadi dapat menjadi ruang yang amat strategis untuk menyerukan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang ramah, bukan yang marah. Ajaran dan ujaran yang meneduhkan bukan malah menimbulkan kemarahan, yang merangkul bukan memukul. Konten-konten tersebut harus diisi oleh para santri dengan beragam telaahan yang lebih konstruktif. Ruang-ruang yang dapat digunakan untuk menebar kasih dan kebermanfaatan bukan oleh konten yang penuh rasa benci.
Semoga ke depan, pendidikan pesantren semakin banyak melahirkan kader-kader terbaik bagi bangsa ini. Seperti para pendahulu yang sudah membaktikan dirinya untuk bangsa sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya.
