kepadamu aku bernyanyi
dengan bunyi maupun sunyi.
rindu merdu bertilawah
sesyahdu angin mendesah
dari jantung gunung ke lembap lembah.
kepadamu aku bermunajat
dengan lafaz khidmat setiap rakaat.
demi Langit juga demi Laut
demi Cinta yang tak mampu kusebut
namun berdenyut-denyut selembut Maut.

Yogyakarta, Desember 2021.
YANG LUPUT KUPAHAMI
sering kali luput kupahami
hujan yang tetiba berhenti
tak selalu menjanjikan pelangi.
begitu pula jiwa manusia,
meski disepuh doa-doa, dibasuh oleh cinta
tak lantas terbebas dari noda dosa dan derita.
mengapa aku mesti berlama-lama
mengiba sebagai hamba kepada manusia?
haruskah aku menghambur-hamburkan usia
demi menunggu hampa dadamu supaya terbuka?
menghisap seluruh utuh yang kupunya
sebagai satu-satunya darah dan udara.
harus berapa lama hidup sepenuh sangsi mesti kujalani?
: cinta yang mematuhkan
cinta pula yang mematahkan.
sering kali luput kupahami
matahari yang hadir di kala pagi
tak lantas mengusir mendung untuk pergi.
seperti halnya kita; manusia,
jika saling mencinta mendatangkan surga,
saling memiliki tak lantas memadamkan neraka.
