SEEKOR BURUNG
Paruh burung menusuk mata langit
Sembab oleh kabut awan
Ditelusupnya pepohonan rindang
Sesekali bertamu pada meja petani
Yang terbelalak di naungan saung
Terhidang butir padi, biji jagung,
mata cabai, dan daun yang menjuntai
dikecupnya kuncup caping
yang basah oleh nasib
menakar hidup di antara sulbi
dan zarah yang ditancap
berputar menggelepar di pematang sawah
mematuk tanah sembari menyanyikan
lagu paceklik.

“leher cangkul tercekik-cekik
leher berdasi menyanyikan kidung.”
sayap burung meraih tangan gadis di kebun kopi
dielus dan diendusnya tangan yang sepi
memasukkannya dalam karung
yang penuh kisah murung
lalu terbang mengudara
mengangkangi serbuk kayu
yang berhambur
beriring bising gergaji
memagut biji jagung
yang terbaring di depan angkring
s’orang nenek tua
yang suaranya sudah tak nyaring
mengelilingi pasar, sesekali kesasar
menabrak pria yang mengayuh sepeda
menjajakan putu ayu
