Lantai 4 Perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (13/8/2026), menjadi ruang perjumpaan antara puisi, sejarah, dan ingatan.
Di tempat yang menyimpan jejak panjang kesusastraan Indonesia itu, Semaan Puisi Edisi 136 digelar dengan tajuk “Mendaras Puisi-Puisi Taufiq Ismail”, dirangkai dengan Semaan Budaya berupa diskusi bertema “Taufiq Ismail: Perjuangan, Karya, dan Penghargaan.”

Sejumlah penyair, budayawan, akademisi, dan pegiat sastra hadir untuk membaca kembali perjalanan kepenyairan Taufiq Ismail. Puisi-puisi yang selama ini lebih dikenal sebagai suara perlawanan dibaca dalam bentangan yang lebih luas: sebagai kesaksian sejarah, ekspresi sosial-politik, renungan spiritual, hingga kegelisahan ekologis.
Dari pembacaan dan diskusi yang berlangsung, mengemuka satu pertanyaan yang terasa semakin penting: sejauh mana puisi-puisi Taufiq Ismail masih mampu berbicara kepada kita hari ini?
Pertanyaan itu tidak hadir untuk menemukan satu jawaban tunggal. Ia justru membuka ruang tafsir yang lebih luas, menemukan jawabannya melalui beragam pembacaan—baik terhadap puisi-puisinya maupun terhadap perjalanan panjang kepenyairan Taufiq Ismail, yang terus bersinggungan dengan perubahan zaman, kehidupan sosial, dan ingatan kolektif kita.
Dari Sejarah hingga Ekologi
Budayawan Ngatawi Al-Zastrouw, salah satu narasumber dalam diskusi Taufiq Ismail: Perjuangan, Karya, dan Penghargaan, melihat puisi sebagai salah satu bentuk ekspresi yang dapat merekam sekaligus merespons sejarah, kehidupan sosial, politik, dan ekologi. Dalam pandangan ini, puisi tidak berdiri di luar kenyataan, melainkan tumbuh dari pergulatan penyair dengan zamannya. Karena itu, membaca puisi juga berarti membaca kembali berbagai persoalan yang pernah dan sedang dihadapi masyarakat.
Jejak tersebut tampak kuat dalam karya-karya Taufiq Ismail. Dimensi sosial-politik, misalnya, tergambar dalam Tirani dan Benteng. Kedua karya tersebut lahir dari pergulatan sejarah Indonesia dan memperlihatkan bagaimana puisi dapat menjadi medium kesaksian sekaligus ekspresi kegelisahan terhadap keadaan sosial-politik. Di tangan Taufiq, puisi tidak sekadar mencatat sebuah peristiwa, tetapi juga menyuarakan sikap penyair terhadap realitas yang dihadapinya.
Menurut penulis buku Menggali Api Pancasila itu, Taufiq Ismail tidak berhenti pada persoalan politik. Dimensi ekologis, misalnya, dapat ditemukan dalam “Sajak Ladang Jagung”. Alam dalam puisi tidak sekadar menjadi latar, tetapi menjadi ruang untuk membaca hubungan manusia dengan lingkungan dan kehidupan.
Dimensi spiritual juga menjadi salah satu warna penting dalam kepenyairan Taufiq Ismail. Di antara sekian banyak puisinya, hal itu dapat kita temukan, antara lain, dalam “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” dan “Sajadah Panjang”.
Spiritualitas dalam karya-karya tersebut tidak hadir sebagai khotbah, melainkan sebagai perenungan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tentang keterbatasan diri, pertanggungjawaban, dan perjalanan batin manusia.
Jejak spiritualitas itu bahkan melampaui halaman buku puisi ketika sejumlah teks Taufiq kemudian diolah menjadi lirik dan dinyanyikan oleh kelompok Bimbo. Melalui musik, puisi-puisi tersebut menjangkau ruang pendengaran yang lebih luas dan menunjukkan bagaimana kata-kata Taufiq Ismail dapat menemukan kehidupan kedua: tidak hanya dibaca, tetapi juga dinyanyikan, dihayati, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dengan demikian, perjalanan kepenyairan Taufiq Ismail memperlihatkan bentangan yang jauh lebih luas daripada sekadar puisi demonstrasi atau puisi politik. Puisi, dalam pembacaan Ngatawi, menjadi ruang tempat berbagai pengalaman manusia bertemu: sejarah, kekuasaan, alam, agama, dan kehidupan sehari-hari.
Melampaui Label “Angkatan ’66”
Pembacaan yang lebih konseptual disampaikan Dr. Ganjar Harimansyah. Ia menawarkan cara pandang yang berusaha keluar dari pembacaan yang terlalu cepat menempatkan Taufiq Ismail semata-mata sebagai “penyair Angkatan ’66”, penyair demonstrasi, atau penyair protes.
Label tersebut memang memiliki dasar sejarah. Namun, menurut Ganjar, label itu tidak cukup untuk menjelaskan perjalanan kepenyairan Taufiq Ismail yang panjang.
Taufiq Ismail telah mulai menulis sejak dekade 1950-an dan terus bergerak melewati beragam persoalan: perang, perlawanan, kerinduan, ketuhanan, kemiskinan, pembangunan, kerusakan lingkungan, korupsi, demokrasi, birokrasi, hingga persoalan moral dan spiritual.
Dari sinilah Ganjar menawarkan istilah “penyair hati nurani publik” (poet of public conscience) untuk memahami posisi Taufiq Ismail.
Istilah tersebut menjadi salah satu gagasan penting dalam Semaan Budaya. Taufiq Ismail tidak sekadar ditempatkan sebagai penyair politik. Di balik puisi-puisi politiknya terdapat persoalan etis yang lebih luas: bagaimana manusia mempertahankan martabat, kebebasan, iman, dan tanggung jawab ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Indonesia menjadi tanah pijakan kepenyairan Taufiq Ismail, tempat sejarah, kegelisahan, dan kenyataan sosial menemukan jejaknya dalam puisi. Namun, cakrawala yang dituju puisinya melampaui batas tanah tempat ia berpijak: kemanusiaan.
Dengan perspektif tersebut, puisi Taufiq Ismail dapat dibaca kembali bukan hanya sebagai dokumen sebuah zaman, melainkan sebagai suara yang terus mengajukan pertanyaan moral kepada zaman-zaman berikutnya.
Puisi sebagai Memori Kolektif
Jika Ganjar melihat Taufiq melalui perspektif hati nurani publik, Zaky Mubarok atau Angin Kamajaya, dosen, penulis dan sekaligus pengasuh Semaan Puisi, menyoroti hubungan karya-karya Taufiq Ismail dengan ingatan bersama masyarakat.
Lewat karya-karyanya, Taufiq Ismail membersamai memori kolektif kita. Puisi-puisinya menjadi semacam penanda bagi berbagai peristiwa yang pernah dialami bangsa Indonesia. Ketika sejarah berubah menjadi angka, tanggal, dan catatan dalam buku pelajaran, puisi memberikan kemungkinan lain: sejarah diingat melalui perasaan.
Puisi tidak selalu bekerja dengan cara menjelaskan sebuah peristiwa. Ia dapat bekerja dengan membuat kita merasakan kembali sesuatu yang pernah terjadi. Karena itu, karya Taufiq Ismail yang lahir dari pergulatan dengan zamannya tetap memiliki kemungkinan untuk dibaca oleh generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut.
Mendaras: Membaca Kembali, Menghidupkan Kembali
Di titik inilah kata “mendaras” dalam Semaan Puisi Edisi 136 memperoleh makna penting. Acara tersebut bukan sekadar pembacaan puisi. Mendaras mengandung semangat membaca secara perlahan, berulang, dan mendalam; memasuki kembali teks, menyusuri lapisan-lapisan makna, serta mempertemukan pengalaman penyair dengan pengalaman pembaca hari ini.
Dengan demikian, mendaras puisi Taufiq Ismail berarti membaca kembali bukan hanya puisinya, melainkan juga zaman yang melahirkan puisi tersebut.
Puisi-puisi Taufiq Ismail dibacakan oleh penyair dan pembaca dari lintas generasi: Jose Rizal Manua, D. Kemalawati, Fatin Hamamah, Helvy Tiana Rosa, Devie Matahari, Imam Maarif, Anzar Mustikowati, Fikar W. Eda, Beni Satri, Gilang Eka Sulaeman, dan Ario Srengenge, serta dimeriahkan oleh Kelompok Hadrah Banjari Assalam.
Kehadiran para pembaca dengan latar, generasi, dan karakter vokal yang beragam membuat karya-karya Taufiq Ismail mengalami semacam kelahiran kembali. Teks yang ditulis dalam konteks sejarah tertentu berpindah ke suara-suara baru. Dari suara-suara itulah muncul kemungkinan pembacaan dan makna yang baru pula.
Tirani dan Benteng, misalnya, tidak lagi semata-mata terdengar sebagai suara anak muda yang berhadapan dengan situasi politik pada 1960-an. Ketika dibaca oleh generasi yang hidup jauh setelah peristiwa tersebut, kedua karya itu dapat berubah menjadi cermin untuk melihat kembali hubungan antara kekuasaan, kebebasan, keberanian, dan suara masyarakat.
Puisi tidak berhenti sebagai arsip sejarah. Ia bergerak menjadi pertanyaan: apa yang berubah dari zaman itu, dan apa yang ternyata masih berulang dalam kehidupan kita?
Pertanyaan serupa kembali mengemuka ketika “Kembalikan Indonesia Padaku” dibacakan siang itu oleh penyair Aceh, Devie Matahari. Dari larik-larik yang ditulis Taufiq Ismail di Paris pada 1971, Indonesia hadir bukan sebagai sekadar nama sebuah negeri, melainkan sebagai ruang kegelisahan yang terus dipertanyakan: tentang penduduk, beban kehidupan, masa depan, dan nasib manusia yang hidup di dalamnya.
Jarak waktu lebih dari lima puluh tahun ternyata tidak serta-merta membuat puisi itu kehilangan daya gugah. Sebaliknya, ketika dibaca kembali hari ini, metafora tentang Indonesia yang “tenggelam” justru mengundang kita untuk bertanya: apa yang sesungguhnya sedang tenggelam, dan Indonesia seperti apa yang ingin dikembalikan oleh penyair kepada kita?
Dari Ladang Jagung hingga Sajadah Panjang
Pembacaan atas Taufiq juga tidak berhenti pada sejarah dan politik. Sajak “Ladang Jagung”, misalnya, membuka percakapan tentang hubungan manusia dengan alam. Ketika dibaca dalam konteks hari ini, puisi tersebut memperoleh resonansi baru di tengah persoalan kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya, dan pembangunan yang berhadapan dengan keberlanjutan ruang hidup.
Di tangan para pembaca lintas generasi, karya-karya Taufiq Ismail mengalami dialog antarzaman. Penyair yang mulai menulis pada dekade 1950-an berbicara kepada pembaca pada 2026. Pengalaman generasi lama bertemu dengan kegelisahan generasi baru. Peristiwa yang telah berlalu dibaca kembali dari pengalaman hari ini.
Karena itu, sejak didirikan pada 28 Oktober 2023, Semaan Puisi tidak dimaksudkan sekadar menjadi ruang nostalgia terhadap para penyair dan masa lalu kesusastraan Indonesia. Masa lalu justru ditempatkan sebagai cermin untuk membaca kembali keadaan hari ini, sementara penyair dan karya-karyanya menjadi jembatan pengetahuan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dengan membaca kembali puisi, kita bukan hanya mengenang apa yang pernah ditulis, tetapi juga menguji kembali daya hidup gagasan, kegelisahan, dan pengalaman manusia yang terkandung di dalamnya. Di situlah Semaan Puisi menemukan relevansinya: menjadikan puisi sebagai ruang perjumpaan antargenerasi, tempat masa lalu tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan terus berdialog dengan zaman yang sedang kita jalani dan masa depan yang sedang kita bayangkan.
Membaca dan membicarakan Taufiq Ismail hari ini, dengan demikian, bukan sekadar menoleh ke masa lalu, melainkan bercermin pada keadaan kita sendiri. Puisi-puisinya mengajak kita kembali bertanya: bagaimana kita memperlakukan kekuasaan, merawat lingkungan, mempertahankan kebebasan, menjaga ingatan sejarah, serta merawat hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya.
Pada titik itulah puisi menemukan salah satu fungsi terdalamnya: bukan memberikan jawaban yang selesai, melainkan menjaga agar pertanyaan-pertanyaan penting tidak pernah mati. Mendaras puisi berarti menjaga pertanyaan itu tetap hidup. Tentang kekuasaan dan kebebasan. Tentang ingatan dan sejarah. Tentang lingkungan yang terus berubah. Tentang iman dan kegelisahan manusia. Tentang keberanian bersuara ketika suara publik berhadapan dengan kekuasaan.
Sebab selama pertanyaan-pertanyaan itu masih hidup, puisi pun belum selesai berbicara. Dan selama puisi masih berbicara, kita masih memiliki kesempatan untuk mendengar kembali suara kemanusiaan di dalam diri kita sendiri.
Jakarta, Agustus 2026.

Betapa semaraknya acara di saat itu,,,