Teknologi telah mengalihkan segala kebutuhan kita dalam sekejap. Bayangkan, tak perlu bersusah payah bekerja jika sekali isapan jempol konten yang kita publikasikan bisa menambah jumlah rekening. Atau tak perlu pergi ke ibu kota untuk jadi terkenal, jika dalam genggaman gawai saja bisa mengangkat status seseorang. Teknologi tak hanya menjadi hiburan semata, melainkan juga pusat menghasilkan pundi-pundi uang.
Tampaknya kemudahan tersebut membuat manusia lupa akan sopan santun dan etika. Hal ini terjadi akibat terkikisnya self awarness atas riuhnya informasi yang beredar. Hingga kita luput mengolah isi konsep, unek-unek yang hendak kita sampaikan. Asalkan menarik, mendapat ribuan like dan penonton adalah visi yang tak boleh terlewatkan. Tanpa peduli bagaimana perasaan para pihak terkait dengan kejadian yang menimpa keluarganya.

Cerita di atas hanyalah satu dari sekian ribu peristiwa yang tak asing lagi di zaman sekarang. Kabar-kabar serupa tanpa henti melintas di layar HP setiap waktu. Tanpa beban, kita menyaksikan video dan foto kecelakaan bahkan ada yang ikut menyebarkan konten serupa. Kecanggihan ponsel pintar rupanya tak hanya melenyapkan sisi nurani manusia, namun juga merampas fungsi otak kita.
Teknologi menawarkan segala kemudahan yang kita butuhkan. Kita tak perlu repot-repot mengingat penjelasan seseorang, jika sudah tersedia alat perekam canggih. Atau daripada susah payah menghitung matematika lebih baik menggunakan jepretan ponsel. Kita telah melupakan aset berharga manusia sebagai Homo Sapiens. Mengutip kata John Havens “Risiko terbesar kecerdasan teknologi yang dihadapi siapa pun adalah hilangnya kemampuan berpikir untuk diri sendiri. Kami sudah melihat orang lupa cara membaca peta, mereka melupakan keterampilan lain. Jika kita kehilangan kemampuan untuk berintrospeksi, kita telah kehilangan kompetensi sebagai manusia dan kebingungan akannya.”
