Fenomena ini mengakibatkan hilangnya pegangan dan nilai hidup dalam masyarakat, atau disebut anomie. Manusia menjadi gelagapan sekaligus kebingungan dan merasa teralienasi dari lingkungan hidupnya sendiri. Seringkali muncul perasaan tidak puas karena kehilangan kontrol terhadap situasi dan menjadi pesimis karena berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Tak ingin menjadi kaum tertinggal, kita pun sibuk dengan gempuran informasi setiap harinya. Tak hanya itu, kita kerap membandingkan hidup dengan riuh mewah kehidupan orang lain di laman medsos. Tanpa sadar, efek negatif teknologi yang melebihi dampak positifnya telah merampas separuh kemanusiaan kita.
Hal ini juga turut disampaikan Yoval Noah Harari dalam wawancaranya bersama salah satu media. Ia mengatakan bahwa virus Corona bukanlah ancaman terbesar yang kita hadapi. Umat manusia memiliki pengetahuan ilmiah dan teknologi untuk mengatasi virus. Namun, masalah terbesar adalah nurani, kebencian, keserakahan, dan ketidaktahuan manusia sendiri. Bisa jadi krisis yang terjadi saat pandemi ini, orang-orang justru saling menyalahkan antara satu dengan yang lain, menyalahkan etnis dengan agama minoritas.

Meskipun tak dapat menghindari laju teknologi, setidaknya kita bisa mulai melatih kesadaran diri. Menggunakan medsos atau produk teknologi sesuai dengan batas keperluan dan kewajaran, tanpa mengabaikan toleransi pada sekitar. Dan tentunya peristiwa yang tersebar di medsos dapat menjadi momentum perenungan dan introspeksi diri untuk terus melatih kepekaan nurani dan fungsi akal serta tak henti berkarya seperti kata filsuf Perancis Decartes: Cogito ergo sum (Saya berpikir, maka saya ada).
