Teknologi dan Memudarnya Kuasa Manusia

Perubahan masyarakat, termasuk dalam modus produksi, interaksi, dan komunikasi, lambat laun menggiring manusia pada perasaan tidak memadai, kegelisahan, dan frustrasi. Ini bisa mengarahkan manusia pada pengabaian dan bahkan permusuhan. Oleh karena itu, ketika manusia telah teralienasi dari dirinya sediri, maka produk kerja pun berubah menjadi objek asing yang mendominasi kehidupannya.

Perubahan-perubahan yang telah disebutkan sebelumnya, secara perlahan telah mereduksi manusia menjadi homo consumer – konsumen yang pasif. Kepasifan ini menjadi suatu ciri khas yang melekat kuat dalam masyarakat industri saat ini. Teknologi dan prinsip produksi menundukkan manusia menjadi makhluk yang hanya menerima, ingin diberi makan, tetapi tidak bergerak, memprakarsai, dan tidak merencanakan kebutuhan itu sebagaimana dahulu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gejala ketertarikan masyarakat terhadap hal-hal yang mekanis semata bahkan membuka kemungkinan terciptanya komputer-komputer yang mampu berpikir, merasa, dan berfungsi layaknya manusia.

Kemungkinan itu terasa semakin nyata ketika kita menyaksikan manusia masa kini yang mulai berlagak seperti robot – kehilangan spiritualitas, dan tak lagi peduli terhadap nilai-nilai humanisme sesama.

Dengan demikian, revolusi industri sebagai upaya besar umat manusia yang telah mengubah seluruh struktur kehidupan ini, memang perlu kita kaji kembali. Apa sebenarnya esensi manusia? Apa makna eksistensinya di muka Bumi?

Pada hakikatnya, teknologi bukan untuk menghancurkan kemanusiaan, tapi untuk mengembangkannya.

Sejalan dengan pandangan Marx, manusia seharusnya menegaskan Kembali individualitasnya sebagai makhluk utuh dalam hubungannya dengan dunia – melihat, mendengar, mencium, mengecap, merasakan, berpikir, menginginkan, dan mencintai. Hendaklah menjadi pribadi yang bukan hanya bebas dari, tetapi juga bebas untuk.

Sumber ilustrasi: Kapanlagi plus.

One Reply to “Teknologi dan Memudarnya Kuasa Manusia”

Tinggalkan Balasan