Dan bayi laki-laki kita lahir lebih awal, lebih kecil, lebih ringan dari ukuran-ukuran normal. “Ia lahir dengan maunya sendiri, dengan pilihannya sendiri,” kataku sambil mencium keningmu. Kamu tersenyum, puas dan lega, juga bahagia.
***

Pada mulanya adalah sebuah pertumbuhan yang biasa, sampai kemudian orang-orang menganggap anak kita memiliki kelainan.
“Ia mungkin bisu. Ia tak bisa bicara meski sudah sebesar itu.”
“Tapi ia tidak budek, bukan? Ia masih bisa mendengar suara. Kalau dipanggil juga menoleh. Bukankah, biasanya, bisu itu gandengannya tuli? Kalau tidak budek, mestinya ia tidak bisu, to?”
“Iya, ya. Tapi kenapa ya, ia tetap tak bisa bicara.”
“Ah, mungkin ia menderita autis. Ah, itu, lo, anak-anak yang gagu dalam bicara dan kikuk dalam pergaulan. Anak-anak yang hidup dalam dunianya sendiri, yang abai pada lingkungannya. Biasa, penyakit modern.”
“Ah, aku tak paham soal-soal begitu. Mungkin saja ia kesambet, ketempelan jin atau setan entah dari mana. Mungkin juga arwah-arwah neneknya atau mbah buyutnya masih terus menempel, tak tega melepas kelucuan cucunya. Kalau begitu, harus diadakan selamatan secara khusus.”
“Kamu ini ada-ada saja.”
“Lalu apa bedanya dengan teorimu… apa tadi… oh, autis, penyakit modern; sama-sama tak bisa dinalar, bukan?”
“Ah, sudahlah. Toh, ia anak orang lain, bukan anak kita sendiri.”
***
Begitulah saban hari, dan tiada henti, orang-orang, tetangga-tetangga kita, bahkan saudara-saudara kita sendiri, bergunjing tentang kelainan anak kita. Pada mulanya kita, terutama aku, abai dalam soal itu. Karena, bagiku, setiap anak memiliki pertumbuhannya sendiri.
“Kamu ini bagaimana, sih, Mas, tenang-tenang terus, berusahalah agar anak kita lekas bisa bicara seperti anak-anak yang lain.”
Aku bisa mengerti bila kamu mulai uring-uringan begitu. Anak kita, si Nandung itu, usianya memang telah melewati tahun keempat, dan ia tetap saja tak bisa bicara seperti layaknya anak-anak seusianya. Maka, hari-harimu mulai diliputi rasa waswas, kekhawatiran, juga kebingungan. Kamu pun mulai terpengaruh oleh gunjingan dan omongan orang tentang kelainan anak kita. Aku pun mulai gelisah, tapi bukan terutama karena kelainan anak kita, melainkan oleh sikapmu yang mulai terpengaruh gunjingan dan omongan banyak orang. Karena, bagiku, tetap, setiap anak memang akan memiliki pertumbuhannya sendiri. Setiap anak akan tumbuh dengan caranya sendiri, dengan jalan dan pilihannya sendiri.
Lihatlah si Nandung itu: ia tumbuh dan berkembang sebagai kanak-kanak yang sangat trengginas. Seluruh hidupnya adalah sebuah gerak yang terus-menerus tapi tidak berpola, seakan sebuah titik henti telah ditelan sang waktu entah di mana; ia terus berlarian, berjumpalitan, melempar atau membanting atau memainkan apa saja yang ditemui, memanjat dan bertengger pada pohon-pohon yang tinggi tanpa pernah merasa keder dan takut pada apa pun, pada siapa pun.
Sebagai kanak-kanak ia nyaris tak pernah tidur —kecuali kamu memaksanya dengan cara tak semestinya: menguncinya di dalam kamar atau bahkan mengikat kaki dan tangannya. Hidupnya adalah sebuah gerak itu sendiri, tanpa pernah merasa payah, capai, atau kehabisan tenaga, atau bosan. Bahkan, setiap geraknya yang terus-menerus itu justru selalu seperti memunculkan tenaga baru. Dan, tetangga-tetangga kita menyebutnya sebagai hyperactive —hanya karena kanak-kanak lain tak akan mampu melakukan hal serupa?
Lihatlah si Nandung itu: ia memang memiliki tingkah dan polah yang berlebih. Ia akan memulai, dan menjalani hari-harinya, sendiri. Mula-mula, ketika bangun tidur, ia akan menyeret kakinya, dari ranjang menuju sofa di ruang tamu. Di sana ia akan menggantungkan tubuhnya. Ia akan menyurukkan kepalanya, tengkurap di sofa, dengan kaki menggantung tertekuk, menyentuh lantai.
Jika begitu, ia tak pernah mau kita ganggu. Bila kamu berusaha membopongnya untuk cuci muka di kamar mandi, ia pasti ogah, tangannya memeluk erat-erat sandaran samping sofa untuk bertahan, dan berteriak, “Wa wa wa! Wacecke uao dudherr. Wa wa!” Bila kita biarkan, ia benar-benar akan memulai, dan menjalani hari-harinya, sendiri. Dan lihatlah: tak berapa lama ia akan duduk, berdiam diri.
Tapi sorot matanya yang terlalu tajam dan bening berpendar itu akan terus menari-nari, berputar-putar, dari sudut ke sudut, dari titik ke titik, menjelajah ke seluruh ruang —mungkin juga sampai pada ruang yang terjauh, entah di mana. Jika sorot matanya berhenti berputar, berhenti menari, ia akan tersenyum; begitulah ia selalu mengawali hari-harinya. Seperti sorot matanya, ia akan membawa tubuhnya berputar-putar, menari-nari, berlari-lari ke sana ke mari bermain apa saja, memainkan apa saja; sampai kembali pada tengah malam kamu memaksanya untuk tidur karena kanak-kanak seusianya telah berjam-jam sebelumnya mendengkur.
Lihatlah si Nandung itu: ia tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri. Pertama kali mengajarinya bicara, yang kamu peroleh adalah tamparannya. “Hei, Nak, kamu diajari omong yang benar malah menampar mulut ibumu,” katamu sewot pada suatu sore ketika menemaninya bermain di emperan rumah. Dari balik jendela, aku cuma tersenyum, “Kamu cuma kurang sabar.”
Sejak pada mulanya, ia selalu bersuara, ia selalu berbicara. Hanya, karena seperti sedang meracau, kita tak pernah bisa memahaminya. Dalam seluruh geraknya yang tak pernah henti itu, ia selalu bersuara, ia selalu berbicara, seperti ditujukan pada dirinya sendiri, seperti ditujukan entah pada siapa, dalam bunyi yang tetap tak bisa kita mengerti. Bahkan untuk menyalinnya ke dalam tulisan (ini) pun, aku tak memiliki kesanggupan.
“Wai-wai! Cobhrekote koitroma ma. Jujuja jujuja, yaaa,” begitulah caranya ia berbicara yang tetap tak pernah bisa kita mengerti meskipun dilakukan dalam gaya yang sangat ekspresif, sambil kedua tangannya selalu bergerak-gerak, entah menunjuk entah menuding entah. Kadang jika berada di sampingnya, kamu akan selalu menghardik, “Hus, bicara yang benar.”
