Tentang Anak Kita

Dan ia akan tertawa, lalu menyingkir darimu. Pada tempat lain, ia akan kembali asyik dengan mainannya sendiri, geraknya sendiri, suaranya sendiri, bicaranya sendiri. Dan kamu sering kehilangan kesabaran, lalu terus dan terus mencoba mengajari bicara seperti kita berbicara. Tapi tiap kali kamu mengajarinya bicara, ia akan selalu berusaha menyingkir darimu, atau justru seperti sengaja menggodamu, tentu dengan bunyi suaranya yang tak pernah bisa kita pahami: “Majkrecuyo wowohsraeji thuiyeuo…” dan sebagainya, dan seterusnya.

Lihatlah si Nandung itu: karena seluruh gerak-geriknya tidak pernah bisa diikuti atau diimbangi oleh kanak-kanak lain dalam bermain, bahkan juga kita; karena seluruh bunyi suaranya bila berbicara tak pernah bisa dipahami, akhirnya ia selalu memilih kesendirian. Ia terlihat benar-benar hidup dalam dunianya sendiri. Dan kamu terlihat makin cemas, makin khawatir, makin kehilangan kesabaran. “Aku akan melakukan apa pun, agar anak kita lekas bisa bicara seperti kanak-kanak yang lain,” katamu tandas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Pernah suatu hari, diam-diam kamu membawanya ke rumah seorang dukun, tokoh yang dikenal mampu mengobati dan menyembuhkan segala penyakit dengan segala mantra dan jampi-jampinya. Kamu rela antre berjam-jam sambil terus berusaha menjinakkan polah si Nandung yang justru makin binal. Tapi entah karena apa, mungkin kepayahan melayani pasien yang sangat banyak, ketika giliran hendak mengobati anak kita, tiba-tiba sang dukun roboh, tak sadarkan diri, dan kamu bergegas menggendongnya, pulang dengan tangan hampa. Aku sempat menegurmu soal itu, tapi kamu berkilah, “Aku jadi malu, Mas, terus-terusan dibilang anak kita bisu!”

“Bila mengikuti omongan orang, maka kita akan jadi gila sendiri.”

“Coba kalau kamu pernah mendengar sendiri bagaimana orang-orang bergunjing tentang anak kita, pasti juga akan merasa malu dan tertekan. Apa kamu rela, Mas, anak kita dibilang bisu, padahal tidak tuli?”

“Memang tidak bisu. Ia cuma sedang berbicara dalam dan dengan bahasanya sendiri. Pada saatnya, ia juga akan berbicara dengan bahasa kita.”

“Ah, dari dulu kamu itu sok tahu. Coba katakan, sekarang ia sedang bicara dalam bahasa apa, bahasanya siapa? Bahasa langit? Bahasa jin? Bahasa setan? Bahasa negeri antah berantah? Yang realistis saja, Mas.”

Dan aku memilih mengalah. Aku tidak mau anak kita justru menjadi sumber perselisihan, pemicu pertengkaran. Kita akan mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak kita dengan cara masing-masing, jalan yang berbeda. Meski begitu, aku bersetuju menerima usul ayahmu agar kita mengadakan selamatan khusus.

“Ini mungkin arwah-arwah mbah buyutnya belum ikhlas melepas kelucuan satu-satunya cucu lelakinya. Jadi kita harus minta keikhlasannya, dengan cara selamatan itu,” begitu ayahmu mengusulkan.

Beberapa bulan setelah selamatan itu, tetap tak ada perubahan apa pun pada polah dan gaya racau anak kita. Tapi kamu tak pernah kehabisan akal, tak pernah berputus asa. Kembali, kamu mendatangi seorang dukun perempuan. Katanya anak kita ditempeli prewangan, roh halus yang memang menyukai anak kita.

“Racau anakmu itu adalah bukti bahwa ia sedang guyonan dengan prewangan yang mengikutinya,” katanya. Dan si dukun perempuan itu terus berusaha mengusirnya. Salah satu caranya adalah menggerujuknya dengan air kembang. Dan baru kali ini, sampai usianya melewati tahun keempat, anak kita menangis ketakutan —sebelumnya, ia tak pernah merasa keder dan takut pada apa pun dan siapa pun! Tapi hasilnya tetap saja nihil. Ia tetap meracau dalam bicaranya, dan setiap polahnya selalu seperti memunculkan tenaga baru untuk terus bergerak dan bergerak, dengan lincah dan binal.

Akhirnya pada suatu hari, ketika usianya memasuki tahun kelima, dan setelah segala daya upaya serta beragam cara mulai dari pengajaran mengeja huruf per huruf oleh guru Taman Kanak-kanak sampai kamu menyuruhnya minum abu kelelawar yang dibakar lalu dilarutkan dalam air tanpa hasil, kamu merasa telah menemukan jalan terakhir dan manjur.

Seorang dukun perempuan lain lagi memberimu sebuah resep: pertama-tama kamu harus mencari atau menemukan burung beo —milik siapa pun. Pada malam Jumat Legi, kamu harus mengerokkan cincin kawinmu pada lidah burung beo itu sebanyak tiga kali. Setelah itu, cincin kawin itu harus kamu kerokkan pada lidah anakmu, juga sebanyak tiga kali. Ini harus kamu lakukan secara berturut-turut, juga sebanyak tiga kali. Berarti, prosesi ini harus melewati tiga kali malam Jumat Legi. Dan kamu dengan sepenuh hati telah melakukan segala hal persis seperti yang diwejangkan dukun perempuan itu.

Pada malam Jumat Legi itu, kamu membawa si Nandung ke rumah orang kaya, entah siapa, yang memiliki burung beo. “Hai, hai, ada tamu. Cantik, lo,” begitulah si beo itu menyambutmu. Kamu tersenyum, dan berucap, “Burung saja pandai bicara, apalagi manusia….”

Burung beo itu nangkring dengan anggunnya, dengan gagahnya, dalam sebuah sangkar yang sangat megah; ia lebih mahal dari segala yang kita punya. Bulu-bulunya hitam berkilau, tertata dengan halus dan rapi. Kakinya kuning keemasan, dan kokoh. Matanya bening berbinar, kulit mukanya kuning bersih. Paruhnya melengkung panjang, runcing, dan halus. Ia, tentu saja, fasih berbicara, fasih menirukan banyak kosa kata dan kalimat sebanyak yang diajarkan tuannya.

Pemilik burung beo itu dengan senang hati membantumu. Ia mengeluarkan burung kesayangannya dari sangkarnya, kemudian membuka paruhnya menganga lebar, dan menahannya dengan kedua ujung jari telunjuknya. Lidahnya menjulur, tubuhnya bergerak-gerak, ekornya kebat-kebit, dan ia mencicit atau meracau dalam bahasa yang tak bisa kita pahami, dalam kosa kata yang tak pernah diajarkan oleh tuannya. Tapi kita tak peduli. Kamu melepas cincin kawin kita, dengan gerakan tangan yang pelan dan teratur, kamu mengerokkannya pada lidah si beo yang terjulur itu sebanyak tiga kali. Burung beo itu dimasukkan kembali ke dalam sangkarnya. Lepas dari genggaman pemiliknya, ia langsung mengepakkan kedua sayapnya, terbang berputar-putar dalam kurungan yang megah. Kembali, ia meracau dalam bahasa yang tak bisa kita pahami, dalam kosa kata yang tak pernah diajarkan oleh tuannya. Lelaki itu, orang kaya itu, entah siapa namanya aku lupa, mukanya masam. Sewot.

“Hai, bicara yang benar, seperti yang pernah kuajarkan!” demikian lelaki itu berteriak memarahi burung kesayangannya.

Kita abai. Selekas mungkin, kamu memangku si Nandung, “Julurkan lidahmu, Nak.” Kamu pun lekas menggosokkan cincin kawin itu pada lidah Nandung yang terjulur, sebanyak tiga kali. Lalu kamu melirik burung beo, dan tersenyum, “Anakku akan lekas pandai bicara sepertimu, beo.”

Burung beo itu masih meracau.

***

Tapi kamu tak pernah tahu, bahwa aku sering menangis dalam hati ketika melihat orang-orang, tetangga-tetangga kita, saudara-saudara kita, dan terutama kamu, sangat bersuka cita menyaksikan anak kita, si Nandung, yang telah tak meracau lagi dalam bicaranya, yang tak lagi bicara dalam dan dengan bahasanya sendiri. Kini ia mulai pandai dan fasih meniru-niru semua bunyi, meniru-niru semua suara orang bicara, seperti burung beo melakukannya. Selebihnya, ia akan diam dalam kesendiriannya.

Tinggalkan Balasan