Tentang Sebuah Mitos yang Bernama Hiperealitas

Jean Baudrillard akhirnya memetakan ciri-ciri dari masyarakat konsumeris, sebagai masyarakat yang di dalamnya sudah banyak terjadi penyimpangan logika konsumsi. Yang artinya, bahwa ada perpindahan dari logika kebutuhan menuju logika hasrat. Inilah yang menjadi tren dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Meskipun, di sisi lain, kita tahu bahwa masyarakat perkotaan identik dengan masyakarat yang berpikir rasional, modern, dan tentu mempunyai kecepatan tinggi dalam melakukan aktivitas apa pun. Tetapi, hal ini justru menjadi pintu masuk dalam lingkaran konsumerisme.

Fenomena seperti ini mengilhami Jean Baudrillard dalam menghadirkan kerangka berpikir, bahwa dalam logika sosial, konsumsi hanya fokus terhadap produksi dan manipulasi atas penanda sosial, tidak pernah terlintas sedikit pun yang mengarah pada pemanfaatan atas nilai guna suatu barang dan jasa yang digunakan oleh individu (Ritzer, dalam Baudrillard, 2006). Inilah peta kehidupan masyarakat yang dipotret oleh Baudrillard, sebuah kehidupan postmodern yang disebut sebagai hiperealitas. Media cetak dan media online tidak bisa menghadirkan realitas yang nyata, melainkan hadir dalam kerangka menjelma realitas itu sendiri atau bahkan bisa lebih nyata dari realitas yang ada.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Media mampu menjebak masyarakat komsumerisme di perkotaan untuk terus menikmati hidangan iklan, promo, dan aneka ragam macam produk baru hadir dalam genggaman dunia virtual ataupun cetak. Pertarungan kapital di atas malah menjadikan fenomena semacam ini sebagai ajang untuk mempromosikan produknya lewat iklan-iklan dan promosi di platform digital. Karena bagaimapun, masyarakat modern tidak bisa lepas dari kehidupan dunia maya. Jadi akses terhadap produk baru yang kadang masih belum diproduksi bisa diketahui hanya lewat sentuhan jari-jari. Baudrillard mengatakannya sebagai hiperealitas, yang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, atau nyata dan mitos.

Tinggalkan Balasan