Prof Machasin, Guru Besar UIN Yogyakarta, dalam suatu seminar menjelaskan bahwa terdapat jarak dalam memaknai bencana sebagai peristiwa alam dan wacana keagamaan. Menurutnya, dua pemaknaan tersebut hingga saat ini dianggap seperti objek yang terpisah pada dua kutub berbeda oleh beberapa kalangan. Sehingga, pada produk konsepsinya akan melahirkan pemahaman bahwa musibah adalah semata-mata takdir dan kuasa Tuhan yang terlepas dari segala kemungkinan alamiahnya.
Pada kasus Covid-19, kita masih menemui sebagian kelompok yang tidak mengindahkan protokol kesehatan dengan dalih-dalih keagamaan. Hal ini tidak selamanya salah, namun menurut penulis hanya tidak tepat apabila dikontekstualisasikan pada pagebluk Covid-19 ataupun bencana alam lainnya.

Teks keagamaan yang berbicara bahwa bencana adalah sebuah takdir merupakan sebuah representasi untuk manusia untuk beradaptasi menghadapi tantangan dan ujian yang diberikan Allah. Ujian ini menggambarkan sebuah pancingan dari Tuhan agar manusia dapat melakukan transisi yang adaptif terhadap keadaan-keadaan yang baru.
Idealnya, seorang muslim harus bisa mengkombinasikan antara doktrin keagamaan yang dipegang teguh dan upaya-upaya riil dalam menghadapi pagebluk Covid-19. Kombinasi dua elemen fundamental ini akan menyongsong pemulihan dalam segala aspek kehidupan manusia, mulai yang bersifat fisik maupun psikis.
Dari sini, kita akan termotivasi untuk bisa melalui masa pandemi ini tanpa restriksi-restriksi yang menghambat ibadah dalam suasana ditimpa musibah. Mudahnya, kalimat “Alhamdulillah” masih bisa terucap setelah kata “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un”
