Perkara Niat dalam Ibadah

Terkadang pikiran kita dikacaukan oleh perasaan diri kita sendiri. Hal yang sederhana dianggap rumit dan sulit. Sehingga menimbulkan keruwetan terhadap sebuah persoalan yang nota bene sederhana dan mudah diaplikasikan.

Tetapi tidak semua orang bisa memanfaatkan kesederhanaan menjadi lebih sederhana dengan berbagai hal dan alasan. Mereka beranggapan bahwa suatu problematika (termasuk masalah fikih), tidak dapat disederhakan hanya dengan sebuah peranggapan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Terkait dengan kesederhanaan ini, ada sebuah kejadian yang melibatkan perkara niat. Adalah KH Warits Ilyas (alm) —dari berbagai sumber yang valid, dapat dipercaya, dan bisa dipertanggungjawabkan— yang merupakan sumber inspirasi terkait dengan persoalan niat.

Bagi sebagian orang, termasuk penulis juga pada awalnya, bahwa niat itu harus bersamaan dengan perbuatannya (muqtarinan bi fi’lihi). Nah, definisi “bersamaan dengan perbuatan” ini yang menyebabkan seorang santri senior (tidak diketahui namanya, ada juga yang mengatakan sebagai alumni) berkunjung ke kediaman KH Warits Ilyas, khusus menanyakan tentang niat yang sebenarnya terkait dengan ibadah, khususnya salat.

Tinggalkan Balasan