Terputusnya Masjid dari Literasi

Di lain pihak, lahirnya masyarakat modern demokratis juga bersamaan datangnya budaya konsumeris dari kapitalisme industri. Dua kata kunci utama dalam masyarakat ini adalah: hiburan dan kecemasan. Selama kaum non-literati mampu membahasakan agama dengan cara menghibur dan mendamaikan kecemasan, selama itu pula mereka mendapat ruang di masjid.

Masjid akhirnya menjadi ruang yang demokratis. Siapa saja boleh mengisi asal sesuai dengan ‘keinginan’ atau suatu sekte di masyarakat. Pada hubungan yang lebih luas, masjid sering menjadi bagian dari afiliasi atau gerakan politik tertentu. Adanya kesadaran sipil (terlepas dari apapun bentuk kesadarannya) yang disemai oleh ustaz memungkinkan masjid menjadi basis perlawanan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam masyarakat modern demokratis dan konsumeris jugalah makna masjid bergeser dari yang mulanya identik dengan kegiatan literati, menjadi identik dengan kegiatan ekonomi. Pergeseran tersebut mengenalkan kita pada, salah satunya, istilah ‘masjid wisata’. Rupa-rupa kegiatan ekonomi di sekitar sebuah masjid menarik perhatian banyak orang, dan idaman percontohan tentang imajinasi masyarakat muslim yang ‘sukses dunia akhirat’.

Kajian tentang ilmu memang ada, namun hanya sedikit masjid yang berani melampaui tema-tema agama. Masjid-masjid di sudut kota pendidikan atau masjid-masjid di universitas biasanya adalah pionir bagi tema-tema universal dan tema-tema yang sebenarnya biasa saja bagi debat ilmu, namun kontroversial bagi masyarakat umum.

Perbedaan satu dengan lain masjid dapat ditengarai dengan seberapa beragam etalase buku yang ada di sudut aula; apakah hanya terbatas pada lusinan Al-Qur’an? Atau ada koleksi lain yang lebih membumi? Dalam masalah ini, imajinasi modern-demokratis-konsumeris membedakan antara masjid sebagai tempat ibadah, dan masjid sebagai pusat pencerahan. Masjid akhirnya menjadi tempat yang sepi, selain suara adzan dan pengajian, yang tidak selalu terjamin otoritas keilmuannya.

Tinggalkan Balasan