Memanfaatkan alur kisah tokoh Balram, pelan-pelan tapi pasti, pola kontradiktif India mulai diurai satu per satu. Sebagai negara demokrasi terbesar, India malah diceritakan sebagai negara yang masih kental melakukan diskriminasi lewat tradisi sistem kasta.
Cerita seperti ini jelas sangat bertolak belakang dengan yang disampaikan oleh Mike Abramowitz, Presiden Freedom House, bahwa India merupakan satu di antara negara dengan demokrasi terbesar sekaligus paling berpengaruh di dunia.

Sebuah negara yang menganut paham demokrasi, secara ironis digambarkan sebagai negara dengan cerita para tuan tanah yang meminta jatah sebanyak sepertiga penghasilan dari para rakyat miskin; cerita para penduduk yang mengidap sakit parah dan akan tiba di rumah sakit dengan waktu tempuh 48 jam⸻sebuah cara yang cukup efektif untuk segera mengakhiri rasa sakitnya; dan cerita tentang seorang sopir pribadi (yang telah bertahun-tahun mengabdi untuk tokoh Ashok) yang harus menyembunyikan nama dan agama aslinya demi tetap mendapatkan pekerjaannya karena ayah Ashok hanya mau mempekerjakan orang-orang yang seagama dan sekeyakinan dengannya.
Tak berhenti cukup sampai di situ, tokoh Balram dipaksa harus patuh terhadap sistem kasta yang mengikat kebebasan, yakni harus selalu menempatkan majikan selaiknya orang tua yang wajib dipatuhi semua perintahnya. Puncaknya, Balram dipaksa untuk mengakui hal yang tidak pernah dilakukannya.
