Tiga Corak Hidup

Sengaja dibahas masalah ini karena dari masing-masing manusia menyadari bahwa hidup ada mulanya dan ada ujungnya. Tidak terkecualikan semua manusia akan berada dalam kandungan ini. Baik orang itu muslim maupun nonmuslim. Sejatinya, orang yang beriman harus dengan yakin dan sepenuhnya bahwa sepanjang jalan kehidupan, lahir perbuatan, tindakan, usaha, ikhtiar, rencana, maka nilai terakhir yang akan memberikannya ialah Allah yang memberi hidup pada hambanya.

Apabila perbuatan yang dihasilkannya seperti karya, rencanam, usaha, dan sebagainya sesuai dengan keridhaan-Nya, maka Allah akan memberikan penghargaan tinggi pada nantinya di akhirat. Sebaliknya, kalau semua tindakan dan perbuatannya tidak sesuai dengan garis-garis yang ditentukan Allah dan ridha-Nya, maka dia mendapatkan kerugian yang besar dalam hidupnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sini, Islam memberi petunjuk praktis agar seluruh tindakan dan perbuatan manusia diridhai Allah. Dalam terjadi kecenderungan masyarakat meninggalkan adat dari nenek moyang karena hidup dikepung dunia modern, maka untuk bertindak dalam hidup dapat menggunakan bentuk corak Islam.

Kata adat itu berasal dari bahasa al-Quran (Arab), yaitu ‘aadat, lalu diindonesiakan menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Pada pokoknya, adat ialah sesuatu yang dibiasakan lalu dilakukan berulang kali sehinga menjadi kebiasaan yang berjalin dalam hidup. Dan adat itu sendiri mampu memberikan corak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara istilah “modern”, sebagai perkataan yang telah umum dikenal sekarang ini, sejatinya telah memberikan corak sendiri sebagai munculnya kemajuan rasio insani sejak berapa abad muktahir ini. Malah setidanya ada salah satu golongan yang mengatakan bahwa modern itu melepaskan diri dari nilai-nilai kehidupan lama, apakah itu agama maupun adat. Ada pula golongan yang lainnya yang tidak sekeras itu. Hanya sekadar hendak memanfaatkan ilmu dan teknik saja.

Hadirnya Islam di tengah-tengah kehidupan manusia ini diperuntukkan buat kebahagiaan manusia lahir dan batin, dunia dan akhirat. Hal ini harus menjadi acuan bahwa selama tidak melanggar agama Islam, maka Islam menerimanya, seperti ikram dhaif, memuliakan tamu yang sejatinya adalah kebiasaan adat lokal (Arab) yang dihargai oleh Islam, malah termasuk kesempurnaan Islam seseorang.

Demikian pula modern yang mewajahi hidup sekarang hendak memanfaatkan ilmu da teknik sungguh dihargai Islam. Tetapi, kalau modern itu dimaksudkan untuk meniru dan mencontoh tata laku berbagai bangsa lain, maka Islam memperingatkan akan bahanya.

Tinggalkan Balasan