Esensi kurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tapi menyembelih ambisi pribadi demi kemaslahatan bersama. Bukan tentang darah yang mengalir, tapi tentang makna yang mengakar.
Maka siapa pun yang hari ini masih rela menyumbang untuk media yang tak memberi balik materi, siapa pun yang masih semangat menulis untuk santri meski tak viral, mereka semua sedang menjalani ritual kurban dengan bentuk yang sangat dalam dan kontemporer.

Mereka tak muncul di layar-layar nasional, tak diundang ke forum-forum besar, tak tercantum dalam daftar pahlawan yang digaji negara. Tapi di sudut-sudut sunyi, mereka menjaga bara literasi dengan napas dan cinta. Sementara banyak yang sibuk selfie dengan kitab, mereka diam-diam menyalin ilmu ke hati para santri. Dan ketika para influencer berlomba cari viewer, mereka justru memikirkan nasib lembaran kertas dan harga tinta. Tak terdengar, tapi terasa. Tak viral, tapi abadi.
Seperti mereka yang kini diam-diam menjaga literasi santri, mungkin malaikat pencatat Lauhul Mahfudz pun diam-diam menjaga nama mereka—dan mengukirnya dengan tinta emas yang tak bisa di-like oleh penduduk bumi, tapi akan kekal dibaca Tuhan dan di-like penduduk langit.
Cipasung 1 Juni 2025.
