***
Ketika rambatan malam sampai pada puncaknya, Yumna terjaga dari tidurnya. Lelaki yang terbaring di sisi kanannya, dibiarkannya lelap dalam tidur. Setelah menyibak selimut, perlahan Yumna turun dari ranjang, dengan punggung dan kaki yang masih dibiarkan telanjang. Setelah melangkah perlahan ke segenap arah, perempuan itu memilih duduk terpaku, sebab untuk kembali naik ranjang, kantuk tak lagi datang. Lama sekali perempuan itu duduk mematung. Dengan itu, malam terasa semakin senyap. Hanya desah napas Suparto, yang mungkin dipacu oleh sejumlah mimpi, dan suara detak jantungnya sendiri, yang mampu ia tangkap dengan jelas.

Pandangan perempuan itu beralih ke ranjang, mendapati sesosok tubuh yang membujur lesu. “Kenapa dalam tidurmu pun, kau masih tampak gelisah,” katanya dalam hati. Sambil menahan senyum sinisnya, perempuan itu beranjak, perlahan melangkah ke arah jendela. Dari jendela kamar yang berada di lantai ketiga itu, Yuma melepas pandang: kota tidur dalam selimut malam. Hanya lampu-lampu yang terjaga, mengaburkan cahaya bulan. Perempuan itu melihat dadanya yang masih telanjang, dipercantik cahaya bulan yang menerobos dari celah kelambu yang tersibak tangan. Dari jendela itu, Yumna menebar pandang ke sudut-sudut ruang, ke sudut-sudut kota, sejauh daya jangkau pandangan matanya.
Di sudut-sudut ruang, di sudut-sudut kota yang terjangkau mata, Yumna merasa tidak menemukan tempat yang mau menerima kehadirannya. Dalam tidurnya kota yang diselimuti malam pun, terasa tak ada sudut-sudut kehidupan yang mau menerima keberadaannya. Perempuan itu menarik napas panjang. “Ya, kalau memang setiap sudut ruang, kalau memang setiap sudut kehidupan, tak sudi menerima dan mengakui keberadaanku, kenapa aku memaksakan diri untuk hidup di kota ini,” Yumna berucap lirih.
Dalam kebisuan selimut malam yang juga tak menjanjikan banyak hal, perempuan akhirnya menyadari bahwa keputusannya untuk meninggalkan tanah kelahirannya hampir setahun lalu itu memang bukan untuk berebut sudut-sudut ruang, sudut-sudut waktu, dan setiap sudut kehidupan kota. Dada telanjangnya yang sedari tadi membusung menahan gejolak hati, kini mulai mengendur. Semangatnya untuk merebut sebuah sudut kehidupan di kota mulai reda. Terlintas dalam benaknya, sebuah dusun di kaki gunung yang asri, yang lebih banyak menjanjikan kenyamanan hidup.
“Ya, kenapa aku harus ikut berebut sudut-sudut waktu dan setiap sudut kehidupan bila akhirnya aku toh tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menguasainya,” guman Yumna, mengengadahkan wajah, menatap langit malam yang menua.
