Yumna juga mulai teringat ayah, ibu, dan adik lelakinya yang masih baru trantanan saat ditinggal pergi. Akhirnya Yumna bertekad, paling tidak pada akhir pekan sudah harus pulang kampung. Dengan begitu, ia akan bisa kembali membantu orangtuanya menanam atau memanin padi. Adik lelakinya akan diajarinya mengeja alif, ba, ta… sebagaimana dulu pernah diajarkan ibunya kepadanya. Sesuai shalat subuh, ia akan menyusuri jalan setapak menuju sungai yang airnya bening. Di sana ia akan mencuci pakaian, dan berendam mandi pagi. Namun, ketika ingatannya terpusat pada sungai yang airnya bening itu, tiba-tiba mata Yumna membelakak, nanar, dadanya membusung naik turun, dan tangannya terkepal membatu.
Yumna teringat saat-saat paling memilukan dalam hidupnya, di mana dalam sekejap masa depannya terampas dan terkoyak. Bukan hanya itu, keberadaannya sebagai seorang perempuan telah tercerabut. Ia telah kehilangan segalanya. Kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya adalah seseorang yang patut diakui sebagai perempuan. Dengan gigi yang bergemeretak, perempuan yang punggung dan kakinya masih dibiarkan telanjang itu teringat akan ketidakmampuannya mempertahankan segalanya. Saat pagi masih buta, saat dirinya berendam mandi pagi sehabis mencuci pakaian, tiba-tiba dari arah yang tak diketahuinya seseorang dengan beringasnya menyerbu, mendekap, dan akhirnya merampas kesuciannya sebagai seorang gadis.

Tak seorang pun yang mengetahui peristiwa memilukan itu, kecuali dirinya dan sang durjana. Karena itu, ketika berpamitan hendak pergi ke kota, orangtuanya tak menaruh rasa curiga sedikit pun. Sesungguhnya Yumna berangkat ke kota bukan untuk mengadu nasib —berebut sudut-sudut ruang, berebut sudut-sudut waktu, dan berebut setiap sudut kehidupan— seperti alasan disampaikan kepada orangtuanya ketika berpamitan. Ia berangkat ke kota lantaran tak kuasa menahan amarah dan dendamnya terhadap Marji, lelaki yang telah merobek batas-batas kesuciannya. Amarah dan dendamlah yang sebenarnya menuntun langkah perempuan itu menyusuri jalan berebut sudut-sudut ruang, sudut-sudut waktu, dan setiap sudut kehidupan kota. Dan tiap arah dari langkah kakinya yang dituntun amarah dan dendam itu hanya memiliki satu tujuan: membunuh lelaki yang telah membuat kelabu masa depannya.
Namun, apa yang didapat? Meskipun telah sekitar setahun menyusuri sudut-sudut kota di mana, konon, Marji menyembunyikan diri, perempuan itu tak pernah berhasil mengendus jejaknya. Akhirnya, mau tak mau, Yumna harus mengikuti arus deras gerak masyarakat urban, berebut sudut-sudut ruang, berebut sudut-sudut waktu, dan berebut setiap sudut kehidupan kota.
“Tidak! Tidak boleh aku pulang. Karena di sana juga tidak akan ada sudut-sudut ruang yang sudi menerima kehadiranku,” tiba-tiba Yumna mengerang, berbalik memunggungi jendela.
“Biadab!” ia berteriak karena merasa melihat sosok Marji sedang terbujur tidur dalam gelisah. Dengan gerakan cepat, Yumna telah menggenggam sebilah pisaun yang selalu disimpan dalam tas pinggangnya. Ia tak kuasa lagi mempertahankan kesadarannya, sebab amarah dan dendam telah merebut sudut-sudut ruang kemanusiaannya yang paling dalam. Dan, ketika azan subuh merobek perut malam, darah segar seorang sopir taksi yang sedang tidur dalam gelisah mengucur dari luka perutnya yang nganga. Saat sinar matahari mulai menerangi kaki langit, satu nyawa telah melayang dari gerak tangan ringkih seorang perempuan yang tak memiliki kekuatan apa pun untuk menguasai dirinya.
