Keasyikan akan bertambah-tambah ketika Ramadan tiba. Sebab, menjelang atau setelah tarawih berjamaah, durasi penabuhan beduk boleh lebih lama. Di sanalah kami berebut tongkat dan menabuh beduk beramai-ramai. Sebuah permainan yang mengasyikkan.
Usai acara pemukulan beduk, kami biasanya akan berebut duduk di lantai melingkari meja bersegi panjang berkaki pendek. Di atas meja itu sudah tersedia beberapa eksemplar Al-Quran dan, tentu saja, teronggok sebuah halo-halo itu, mic itu. Pada mic itulah seluruh perhatian kami tertuju; menunggu giliran memegangnya, dan dengan hati berdebar-debar membuka mulut, mendaras Al-Quran, lalu senang dan bangga ketika suara kami terpancar keras-keras melalui toa, didengar kuping semua orang dari rumah-rumah yang jauh.

Namun, ada saat-saat yang membuat kami kehilangan gairah. Waktu itu, belum semua masjid atau musala atau rumah-rumah penduduk teraliri listrik. Jadi, untuk menghidupkan si toa itu, kami menggunakan aki. Di tengah tadarus, misalnya, ketika setrum aki abis, si toa tak bisa melantangkan suara, maka kami berhenti tadarus. Kurang asyik jika tadarus tanpa pelantang suara. Begitu juga dengan azan atau iqomah. Kami tak lagi berebut azan dan iqomah jika halo-halo itu sedang tak berfungsi.
Tapi, sungguh, itu cerita kanak-kanak di masa lalu. Kami melakukan untuk sebuah keasyikan permainan. Sebab, bagi kanak-kanak, termasuk para santri langgaran, semua adalah bagian dari permainan. Dosa dan pahala masih jadi ikhwal sulit dipahami. Apalagi yang disebut jihad dan syiar agama.

Masih begitu membekas dalam ingatan saat saya kecil berdebar-debar menunggu microfon untuk mendaras Al-Quran.