“Nggak tahu ya, ummi, sepertinya betah di sini. Tapi kalau saya sih pengen pulang ke Jakarta,” jawabku menggantung.
Mereka mengucapkan “ooh” panjang dengan kompak. Suara “Assalamu’alaikum” dari seseorang di ambang pintu dapur akhirnya menghentikan pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang ditujukan padaku. Dengan gupuh, mereka mempersilakan tamu itu masuk. Setelah menemui mbah, ummi, dan bibi-bibi, tamu itu bergabung bersama kami untuk membantu membuat kue.

“Siapa?” tanyaku lirih sambil berbisik ke telinga Bik Wardah.
“Mak Sum itu, ibunya Tolak,” jawab Bik Wardah juga sambil berbisik.
“Ha? Tolak?” tanyaku nyaris tidak terdengar. Kemudian aku ingat nama itu.
