Tolak Badriyah (Bagian 2)

Aku tahu, namanya Badriyah. Dan ia sendiri memang meminta orang-orang di sekitar sini untuk memanggil dirinya dengan nama Tolak.

Di daerah ini, panggilan Tolak mempunya asal cerita yang panjang. Panggilan itu memang dilekatkan di depan nama asli seseorang. Tentu saja penempatan panggilan itu bukan tanpa tujuan. Bagi anak-anak semata wayang orang tuanya, yang lahir dan hidup setelah beberapa kali kematian menimpa saudara-saudara mereka yang lebih tua, penempatan kata Tolak sama artinya dengan sebuah ikhtiar untuk menolak maut yang barangkali turut mengancam nyawanya. Sebagaimana maut merenggut nyawa saudara-saudaranya yang mati sebelum ia, maka nama Tolak itu menjadi sebuah upaya supaya si anak dengan panggilan Tolak ini bisa lolos dari maut dan berhasil hidup untuk waktu yang lama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari penuturan salah seorang santri yang menjadi kerabat jauh Tolak Badriyah, anak itu nyaris saja mati saat umurnya 6 bulan. Ia tiba-tiba didera panas tinggi dan kejang dengan intensitas yang cukup mengkhawatirkan. Semua anggota keluarganya mengira kalau ia akan mati. Seperti saudara-saudara kandung sebelum ia yang lebih dulu mati ketika usianya baru belasan hari. Betul-betul berkat keajaiban Tuhan belakalah yang membuat Tolak Badriyah tetap bisa hidup sampai sekarang.

Imbas dari sakit panas dan kejang yang dideritanya semasa kecil itulah konon yang menyebabkan Tolak Badriyah “sedikit kurang”. Di mataku sendiri, meskipun tampak ganjil, ia toh terlihat normal-normal saja. Ia mampu bicara dan berkomunikasi dengan lancar. Bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan gamblang. Dan kulihat ia juga mampu bergaul baik dengan teman-temannya.

gambar: eva maulidiyah

Tinggalkan Balasan