Toleransi di Masa Nabi

Menurut Syadzali, dasar-dasar yang bisa dijadikan landasan tersebut antara lain; pemeluk Islam adalah komunitas meskipun terdiri dari beberapa suku; hubungan dalam intern komunitas Islam, dan antarkomunitas Islam denga anggota lain didasarkan atas beberapa prinsip, antara lain: bertetangga yang baik, saling membantu menghadapi musuh, membela yang teraniaya, saling menasihati, dan menghormati kebebasan beragama.

Nilai-nilai yang —bagi saya sendiri— sangat bisa diterapkan dalam negara-negara majemuk lain, misal Indonesia. Tentunya, nilai-nilai tersebut juga senantiasa menjadi kesadaran kolektif masyarakat untuk meminimalisasi tindakan-tindakan intoleran, yang akhir-akhir ini masih marak terjadi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selanjutnya, Rasulullah, dalam kepemimpinannya juga telah melakukan dialog antaragama. Sebagaimana dijelaskan M Galib, bahwa Rasul pernah menyelenggarakan pertemuan antara Islam, Yahudi, dan Kristen, yang pada akhirnya berujung pada debat teologis. Debat itupun berlangsung dengan masing-masing agama tetap kuat dengan pendiriannya masing-masing.

Yahudi tetap saja menolak Islam dan Muhammad SAW. Kristen tetap mengakui adanya trinitas. Namun, yang lebih penting dari itu semua, Rasul tidak menekan mereka untuk mengubah kepercayaannya. Rasul pun bahkan memberi izin kedua agama tersebut melakukan sebuah dialog tanpa upaya intoleransi sedikitpun. Wallahu a’lam…

 

Tinggalkan Balasan