Peraturan ini memang terlihat kejam, namun hal ini sangat berguna bagi kehidupan santri di masa depannya. Melalui tradisi roan, pesantren melatih santri agar lebih disiplin lagi untuk menjaga kebersihan dirinya sendiri serta menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya sehari-hari. Karena tempat di pesantren milik umum dan banyak yang memakainya mereka harus sadar diri memikirkan teman yang lain. Mereka tidak boleh seenaknya saja melakukan suatu hal di pesantren jika tidak mau menjalani hukuman takzir atau denda.
Sebenarnya, pihak pesantren pun tengah berupaya menghilangkan stigma masyarakat bahwa pesantren adalah tempat yang kotor. Namun hal itu ternyata tidaklah mudah, karena menanamkan karakter kepada santri membutuhkan proses yang lama agar mereka terbiasa hidup bersih dan sehat. Karena terdapat ratusan bahkan ribuan santri yang ada di sebuah pesantren, maka tidak akan bisa jika harus memukul sama rata dalam hal pendidikan karakter ini. Haruslah perlahan dan penuh dengan kesabaran. Lama-lama santri-santri akan mengerti pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan jika mereka sendiri telah mengalami hal yang sangat menakutkan selama tinggal di pesantren, yaitu tertular gudig.

Dalam hal lain, kegiatan roan juga mempunyai banyak manfaat. Selain sebagai media pendidikan karakter untuk mencintai kebersihan, kegiatan ini bertujuan untuk membentuk jiwa sosial santri yang lebih tinggi lagi. Berani bersosial untuk sebuah tanggung jawab dan gotong-royong dalam meringankan pekerjaan. Santri yang mempunyai jiwa anti-sosial atau susah bergaul biasanya akan lebih mudah terbuka jika kegiatan ini. Hal ini begitu baik untuk bekal kehidupan santri di masa depan dalam menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas lagi, yaitu lingkungan masyarakat.
Wallahua’lam Bisshawab.
