Ada tiga desa di Kabupaten Pamekasan yang menggelar tradisi per-peran, yakni Desa Ambat, Desa Kramat, dan Desa Bandaran. Tiga desa ini berada di Kecamatan Tlanakan.
Pada awalnya, tradisi per-peran dikenal dengan tradisi kar-dokaran, karena kendaraan yang digunakan pada waktu itu adalah dokar. Lalu seiring dengan perkembangan transportasi modern, maka warga mulai naik becak, yang oleh masyarakat setempat disebut “per”, sehingga kemudian disebut dengan istilah “per-peran.” Hal ini diceritakan langsung oleh teman penulis bernama Muazzah, dari Kabupaten Pamekasan.

Tradisi per-peran, menurut Ice’, begitu ia disapa, merupakan tradisi yang dapat merekatkan persaudaraan sesama warga Pamekasan. Karena warga yang awalnya tidak saling mengenal menjadi kenal. Dan yang sudah kenal menjadi tambah erat.
Ketupat Besar
Di Kabupaten Sampang, khususnya di Kecamatan Camplong, Desa Tandan merayakan Tellasan Topak (Hari Raya Ketupat) dengan membuat ketupat super jumbo atau berukuran sangat besar. Berat ketupat tersebut mencapai bobot 10 kg.
Dalam membuat ketupat besar ini dengan cara menjahit. Cangkang ketupat tersebut menggunakan bahan dari janur siwalan. Setelah cangkang ketupat selesai dibuat, lalu warga Sampang mengisinya dengan beras seberat enam kilogram.
Ketupat besar tersebut dimasak di atas tungku menggunakan bahan bakar kayu kering. Awalnya, ketupat besar ini dibuat untuk menghormati tokoh masyarakat yang disegani masyarakat. Namun dalam perkembangan selanjutnya, tradisi ini menjadi rutinitas sebagian besar masyarakat Sampang setiap Tellasan Topak.
Ketupat besar dibuat untuk melambangkan suatu penghormatan antar sesama warga Sampang. Belakangan, menurut Aminatut Taqiyah, warga Sampang membuat ketupat dengan bentuk unik, yakni menyerupai bebek.
Topak Ladeh
Berbeda dengan tradisi lebaran di kabupaten Pamekasan dan Sampang, di Kabupaten Bangkalan ada tradisi membuat topak ladeh. Ketupat ini oleh warga Bangkalan dibuat dengan sayur yang mirip dengan ladeh.
