Di pondok pesantren Tegalrejo sendiri, ada beberapa model tirakat yang diamalkan oleh para santri. Di antaranya, ada yang melakukan tirakat puasa senin kamis, puasa dawud, puasa mutih, puasa yaman huwa, ngrowot, dan puasa dalailul khairat. Saat melaksanakan tirakat, biasanya akan diberikan doa atau wirid oleh mujiz (orang yang memberikan ijazah) sebagai pengiringnya.
Namun, dari sekian banyak laku tirakat yang diamalkan, ada beberapa jenis tirakat yang mendominasi para santri Pondok Tegalrejo. Pertama, puasa daud, yakni jenis puasa yang dilakukan oleh Nabi Dawud. Puasa ini dilaksanakan dengan cara sehari berpuasa dan sehari berikutnya tidak puasa (selang-seling).

Santri-santri di Pesantren Tegalrejo sangat banyak yang melakukan tirakat puasa daud. Waktu lama pelaksanaannya tergantung pada yang memberikan ijazah (izin), tapi biasanya dilakukan selama kurang lebih tiga tahun. Dalam kurun waktu pelaksananya tersebut juga diiringi dengan doa dan wirid-wirid tertentu yang harus dibaca oleh pengamal tirakat.
Tirakat yang juga tak kalah banyak diamalkan oleh para santri Tegalrejo adalah puasa ngrowot atau biasanya disebut ‘ngrowot’ saja. Bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan istilah ngrowot, tapi tidak untuk para santri Tegalrejo.
Puasa ngrowot merupakan jenis tirakat yang dilaksanakan dengan cara tidak makan nasi atau sesuatu yang berasal dari beras (baik beras ketan, beras putih, ataupun beras merah). Begitu juga jenis olahan makanan yang berasal dari beras atau terdapat campuran beras, dan diganti dalam bentuk umbi-umbian, jagung, dan terigu.
Meskipun banyak opsi makanan yang bisa dimakan selain beras, tapi pondok pesantren Tegalrejo hanya menyediakan nasi jagung kuning untuk dikonsumsi oleh para santri yang sedang menjalankan tirakat ngrowot.
