Maka, jika pada akhirnya mereka menampilkan pesantren dengan framing negatif, itu bukan semata kesalahan teknis. Ia adalah bagian dari narasi ideologis. Namun, meresponsnya dengan hanya marah dan tuduhan konspiratif tak akan menyelesaikan masalah.
Dalam dunia yang semakin kompleks dan terhubung, narasi tidak bisa dilawan dengan fobia. Ia hanya bisa dikalahkan dengan narasi tandingan yang lebih kuat, lebih meyakinkan, dan lebih tersebar.

Dan saya pikir, inilah PR bagi dunia santri hari ini. Jika santri tidak hadir di ruang-ruang produksi narasi — seperti media, dunia digital, budaya populer, hingga teknologi — maka jangan heran bila pesantren terus dimaknai dari luar, bahkan disalahpahami.
Tema Hari Santri 2025 mengajak kita melangkah ke peradaban dunia. Tapi langkah itu tidak akan berarti jika narasi tentang pesantren tetap dikuasai oleh pihak yang tak memahami dunia pesantren itu sendiri.
