Maka membangun talenta santri yang bisa menjangkau sektor-sektor strategis harus menjadi agenda utama ke depan. Lebih dari itu, para pemimpin pesantren harus melihat perang ideologi ini sebagai realitas yang tak bisa dihindari. Bukan untuk dilawan dengan emosi, tapi dengan kesiapan. Siapkan kader yang bisa bersaing di ruang-ruang baru.
Pendidikan pesantren harus mulai menyentuh ranah jurnalisme, teknologi digital, kecerdasan buatan, bahkan diplomasi internasional. Santri tak boleh hanya jago pidato di panggung, tapi juga harus bisa bicara di forum global dan menguasai narasi digital.

Tentu ketika narasi dilepas begitu saja, akan ada pihak yang mengisinya sesuai agenda masing-masing. Hari Santri kali ini harus menjadi titik balik. Santri tidak cukup dijaga — ia harus disiapkan untuk maju, menjawab tantangan zaman, dan menulis narasi baru tentang dirinya untuk dunia.
