Pertama, tersambungnya historisitas suatu informasi sangat penting diperhatikan. Kita harus menelaah dan mencari sumber-sumber yang terkait dengan berita tersebut, dengan cara menelusuri hulu suatu perkara berasal. Aktualisasi ini berasal dari kajian ilmu Rijal al Hadits dengan memeriksa terlebih dahulu hubungan guru dan murid dalam transmisi informasi hadits.
Kedua, kita harus bisa menjamin otoritas pembawa berita bisa dipertanggungjawabkan. Sekarang ini, kita dapat mengakses media mana pun yang akan digunakan sebagai literatur dalam mencari informasi. Namun, persoalannya adalah kita pun juga harus bisa menentukan mana media yang kredibel dan terpercaya. Sederhananya, hal itu dapat dilihat dari berbagai data survei yang memaparkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media tertentu.

Aspek kredibilitas ini sangat vital dalam kajian ‘ulum al hadits. Karena para ulama memberikan perhatian besar terhadap perilaku dan track record dari rawi tertentu dalam kamus biografi rawi. Apabila ditemukan kelemahan dan kejelekan dalam taraf akhlak dan perilaku, maka sudah jelas akan memengaruhi status hadits yang akan dijadikan dasar hukum (hujjah).
Ketiga, adalah langkah analisa terhadap kemungkinan yang janggal dari media dalam menawarkan berita. Pada kasus hoax, analisa ini lebih tepat digunakan untuk melihat teks berita secara menyeluruh. Jika mengikuti langkah para ulama, maka hal yang tepat untuk dilakukan adalah dengan mengkomparasikan informasi yang sama dari berbagai sumber yang berbeda. Dengan metode ini, akan dapat ditengarai mana saja sumber-sumber yang melenceng dari fakta yang sebenarnya.
Langkah analisa tersebut sangat terkait antara satu dengan yang lain sehingga tidak dapat dipisahkan. Konsep dasar para ulama terhadap penilaian hadits menurut penulis sangat sah bila diaktualisasikan untuk memfilter informasi di masa kini. Karena hakikat hadits sebenarnya adalah rekaman informasi. Sangat bijak apabila kita bisa menerapkan keilmuan ini untuk membentengi kita serta orang disekitar terhadap hoax.
Wallahu A’lam bi as Showaab.
