Trilogi Pemikiran Abah Kiai Siddiq Pungging

Dalam tulisan ini, saya mencoba mengulas bagaimana pemikiran Abah Kiai Siddiq sebagai pengasuh sekaligus ulama Mojokerto yang intelek. Dalam beberapa kesempatan ceramah, Abah Kiai Siddiq mengulas tentang trilogi pemikiran khas Nurul Islam, yaitu olahrasio, olahrasa, dan olahraga.

Ketiga konsep trilogi semacam itu ditanamkan sedini mungkin kepada segenap santri baru secara khusus dan seluruh civitas akademika Nurul Islam dari berbagai jenjang pendidikan. Dalam konteks akademis, ketiga konsep tersebut mencerminkan bagaimana Abah Kiai Siddiq menggabungkan aspek rasional sebagai panglima dalam melihat realitas kehidupan dengan menekankan aspek intuisi yang tertanam pada diri santri melalui olah tirakat maupun aurod- aurod khusus yang dibaca setelah salat dengan tetap menanamkan bahwa kesehatan menjadi sangat penting dalam menggabungkan semuanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam beberapa pertemuan dan ceramahnya, Abah Kiai Siddiq memaparkan tentang pentingnya rasionalitas sebagai harga mati yang harus dioptimalkan pada diri santri. Tidak heran ketika trilogi konsep tersebut dilihat dalam perspektif akademis mempunyai relasi dan titik temu dengan konsep pemikir Timur Tengah, Mohammad Abed Al-Jabiri dengan trilogi konsepnya, bayani, irfani, dan burhani yang sama-sama saling terkait satu dengan lainnya.

Abah Kiai Siddiq menekankan pertama adalah olahrasio. Tidak berlebihan jika olahrasio menempati deretan pertama mengingat banyak teks-teks kitab suci dan juga qaul ulama tentang rasio/akal manusia. Bahkan, dalam literasi pesantren, manusia disebut hayawan natiq, hewan yang berfikir, makhluk yang mengoptimalkan daya nalarnya. Bahkan, di dalam Al-Quran  seringkali disebut afala tatafakkarun, afala ta’qilun, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan