Trilogi Pemikiran Abah Kiai Siddiq Pungging

Dalam pemahaman saya, landasan teologis inilah yang mengilhami pemikiran Abah Kiai Siddiq dalam merumuskan santri Nurul Islam untuk mendayagunakan akal/rasionalitas secara maksimal. Karenam hanya dengan akal pikiranlah yang membedakan dengan makhluk yang lainnya.

Kedua, olahrasa. Dalam penafsiran saya, olahrasa ini lebih cenderung kepada bagaimana amaliyah santri yang bersifat eskatologis/ukhrawi. Para santri ditekankan untuk disiplin dalam melaksanakan perintah agama beserta amaliyah sunnah lainnya. Tujuannya semata-mata agar hati dan rasa yang tertanam dalam diri santri maupun keluarga besar Nurul Islam semakin terasah dengan lemah lembut melalui media tersebut. Atau, olahrasa bisa diterjemahkan dengan istilah tirakatnya para santri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Senada dengan gagasan Abah Kiai Siddiq, Nur Khijja Fiddari dalam jurnal Indonesian Journal Of Humanities and Sosial Sciences mengurai bahwa ada dua unsur penting dalam masyarakat, yaitu agama dan budaya, yang mana di antara keduanya saling mempengaruhi. Ketika ajaran agama masuk dalam sebuah komunitas berbudaya, akan terjadi tarik menarik antara kepentingan agama di satu sisi dengan kepentingan budaya di sisi lain. Budaya tirakat merupakan bentuk terjadinya akulturasi Islam dengan budaya lokal. Tirakat menjadi salah satu tradisi yang telah berkembang jauh sebelum datangnya Islam ke tanah Jawa dengan berbagai tujuan. Penghayat kejawen percaya seseorang yang telah melakukan tirakat kelak akan mendapatkan pahala.

Ketiga, olahraga. Di tengah pandemi yang membahayan setiap orang, dibutuhkan sinergitas imunitas dan imanitas yang baik. Dalam hal ini, abah Kiai Siddiq menekankan bahwa olahraga menjadi aktivitas penting dalam diri santri maupun dewan guru. Tujuannya, di samping untuk kesehatan badan serta kebugaran, juga bisa menguatkan imunitas dengan berolahraga secara rutin dan berkala.

Tinggalkan Balasan