Suatu waktu ketika pekarangan sepi dari pematang sawah besar harap kincir angin menerpa tubuhnya
Mungkin tak ada yang lebih tabah
Tanah diam-diam terpendam oleh matang
Masa lalu tak pernah berdebu,
biarkan aku menungganginya kuda-kuda mereka mengenang dauh loka
Dalam tanah ia senantiasa memanjat doa-doamu yang mungkin tak pernah kau tahu.

Tak ada tanah yang batu menenggelamkan kepalanya diri sendiri
Berbiak seribu
Rupanya, ada tanah menyukai semesta di pangkuanku
Sumenep, 2022.
KEPADA NA
Na,
:sebuah lakon kecil di Kembangsoka lalu
Risalah kertas putih tebal
Bisa memimpikan bidadari
Itulah sebabnya janji ini kekal dalam sajak-sajak
Na,
Sewaktu, mahkota dipakaikan di kepala
genap sehelai benang putih melingkar di tubuhnya
Lelaki tak pernah menoleh ikut menanggalkan daun-daun
Menjadikan ratusan mata menyepi menepis baying-bayangnya
Titah-Nya abadi
