Tubuh, Viralitas, dan Absennya Negara

Masyarakat akar rumput, remaja pedesaan, pedagang kecil, buruh tani, buruh lepas, hingga orang miskin perkotaan kini seolah mendapat “angin harapan” di tengah arus digitalisasi.

Platform-platform media sosial, seperti: YouTube, Facebook, Tiktok, dan Instagram, menjadi wadah untuk mengekspresikan diri. Bukan hanya mengekspresikan diri, lebih dari itu bahkan sampai “mendagangkan diri”. 

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Apa yang saya maksud “mendagangkan diri” adalah, menjadikan diri sendiri atau mengekspos urusan privat (domestik) ke ruang publik, untuk meraup pendapatan. Tubuh menjadi alat komoditi. Viralitas dianggap sebagai jalan pintas, untuk keluar dari lingkar kemiskinan.

Fenomena ini, disebut oleh Byung Chul Han, sebagai The Transparency Society (masyarakat transparansi). Kaburnya batas, antara ruang privat dan ruang publik dalam masyarakat.

Viralitas dan Jeratan Kemiskinan

Tentu saja, persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia terkait satu sama lain. Mulai dari keterbatasan akses pendidikan, kurangnya lapangan kerja, hingga jeratan kemiskinan.

Tinggalkan Balasan