Tugu Bayangan

Bayang-bayang hitam itu masih di sana ketika Paimin tiba di tempat itu untuk kedua kalinya dengan mangajak Pak Wiro. Berselang-seling Pak Wiro memandangi wajah Paimin dan bayang-bayang itu. Ia kemudian jongkok, seperti yang dilakukan Paimin sebelumnya, lalu tangannya meraba-raba tanah di depannya di jalan setapak itu. Ia lalu mendongak, dan suwung.

“Mungkinkah ada makhluk gaib, atau benda takberwujud, di sekitar sini?” Pak Wiro menggumamkan pertanyaan, seperti bertanya pada dirinya sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kalau yang gaib, atau lelembut, mana mungkin bisa memunculkan bayang-bayang seperti ini,” Paimin menimpali.

Mata Paimin memeriksa dengan teliti bayang-bayang itu. “Sepertinya ada yang berubah, atau bayang ini bergerak,” kata Paimin. Ketika Paimin melihatnya pertama kali, bayang-bayang itu lebih banyak melewati batas sisi barat jalan setapak itu. Kali ini, bayang-bayang itu lebih banyak melewati batas sisi timur jalan.

“Itu karena matahari sudah bergeser ke barat,” Pak Wiro menyahut.

“Berarti sumber bayangan ini tak bergerak,” kata Paimin.

“Coba besok kita periksa lagi, apakah masih ada bayang-bayang ini,” ajak Pak Wiro.

Di langgar dusun, sehabis salat Isya, Paimin menceritakan keganjilan itu pada warga lainnya. Ada yang terkejut penasaran. Ada yang menganggapnya sebagai khayalan seperti yang mereka dengar dari para pertapa.

“Ada saksinya. Saya tadi kembali ke sana dengan mengajak Pak Wiro. Dan kami memeriksanya lagi bersama-sama. Dan itu benar adanya,” Paimin meyakinkan pendengarnya. Seorang warga ada yang berinisiatif menyusul Pak Wiro. Ketika tiba, Pak Wiro yang tak pernah menampakkan batang hidungnya di langgar itu membenarkan cerita Paimin. Mereka akhirnya berembuk, besok akan bersama-sama memeriksa bayang-bayang ganjil itu.

Menjelang tengah hari, warga dusun itu sudah berkumpul mengerumuni bayang-bayang itu, berjubel mememuhi jalan setapak itu. Di tengah terik matahari, semua orang yang berkumpul di situ memiliki bayang-bayangnya sendiri. Tapi tetap saja ada satu bayang-bayang yang tidak bertuan, yang membuat mereka berkerumun di situ. Bayang-bayang itu menjadi tontotan semua orang. Tapi sebegitu lama, tak ada yang berani mengambil kesimpulan benda apa yang memunculkan bayang-bayang itu.

“Ini mungkin yang dimaksud oleh para raja, para kaisar, atau para khalifah ketika dulu mereka mengatakan bahwa dirinya adalah bayang-bayang Tuhan di muka bumi ini,” seseorang nyeletuk di tengah kerumunan. Nadanya setengah bercanda. Beberapa orang tertawa mendengarnya. Tapi ada seseorang yang serius memberi tanggapan.

“Tuhan, kan, tidak berwujud tidak berbentuk, itu kata guru ngaji saya. Jadi mana mungkin memunculkan bayang-bayang seperti ini.”

“Lha.. iya-ya…,” beberapa orang bersahutan.

“Lelembut juga tidak mungkin memantulkan bayang-bayang seperti ini.”

“Seperti pernah melihat wujud lelembut saja….”

Percakapan warga dusun yang berkerumun itu akhirnya lebih menyerupai pasukan lebah berdengung. Tak ada alurnya. Tak ada ujung pangkalnya. Hingga matahari lingsir di ufuk barat, mereka masih belum bisa memecahkan misteri itu. Mereka akhirnya pulang ke dusun dengan menggendong pertanyaan di punggung masing-masing.

Malam harinya, warga dusun itu kembali berkumpul di langgar, termasuk Pak Wiro. Mereka masih memperdebatkan benda apa yang tak kelihatan wujud fisiknya tapi bisa memunculkan bayang-bayang.

“Bagi saya tak penting itu benda apa. Yang penting, jangan sampai di situ menjadi tempat pemujaan baru atau tempat pertapaan baru. Yang mau bertapa biarkan tetap di dalam hutan saja,” Pak Wiro berusaha menyudahi perdebatan.

Tinggalkan Balasan