Tugu Bayangan

Sebuah cerita kadang tak perlu masuk akal. Toh, adakalanya yang tak masuk akal justru menjadi awal dari babakan sejarah. Cerita ini salah satunya.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Desa itu akhirnya diberi nama Tugu Bayangan karena keganjilannya. Semua bermula dari apa yang terjadi di sebuah jalan setapak. Jalan setapak itu membelah ladang dan sawah, sejak dari ujung sebuah dusun terpencil di sisi Utara, yang sesekali berkelok-kelok hingga berakhir di sisi Selatan di batas luar hutan Alas Purwo. Jika musim kemarau, jalan tanah itu akan memamerkan banyak rekahan yang menganga. Sebaliknya, jika musim hujan tiba, ia akan menjadi jalan berlumpur.

Jalan setapak itu biasa dilintasi orang-orang yang hendak bercocok tanam di ladang atau di sawah. Lebih dari itu, jalan setapak itu juga menjadi jalan masuk ke kedalaman hutan bagi orang-orang dusun yang hendak sekadar mencari kayu bakar, atau memotong pohon-pohon jati untuk mendirikan rumah, atau mencari batang-batang bambu untuk membuat gedek, atau berburu bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan liar, atau mencari belalang kayu untuk digoreng sebagai hidangan makan.

Hari itu, Paimin yang berjalan cepat menuju hutan hendak mencari kayu bakar tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika sudah mencapai lebih dari separo jalan. Matanya membelalak menatap apa yang tersuguh di depannya. Sebuah bayang-bayang, tentu saja berwarna hitam. Ia mengira entah ada sebuah benda atau binatang atau orang di depannya. Tapi, ketika matanya menyapu ke sekeliling arah, Paimin tak menemukan apa-apa, tak melihat siapa-siapa. Begitu pula ketika ia mendongak ke atas, yang terlihat hanya kekosongan. Kecuali Matahari di kejauhan sana yang menatap tajam dirinya.

Ketika ia kembali mendaratkan pandangan matanya pada jalan di depannya, bayang-bayang itu masih berada di tempatnya semula, seakan memotong jalan setapak itu. Ia jongkok, lalu tangannya meraba bayang-bayang hitam yang terhampar di jalan itu. Hanya ada tanah yang tertutup bayang-bayang itu. Tak ada benda lain. Ia melihat tangannya yang gemetar, sebagian lengannya ikut tertutup bayang-bayang itu. Lalu ia mendongak lagi, masih suwung.

Paimin kemudian berdiri, mundur dua langkah, lalu berbalik arah, dan berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Dengan napas ngos-ngosan dan tubuh penuh peluh, Paimin langsung menyemburkan kata-kata yang ditahannya selama dalam perjalanan kepada orang pertama yang dijumpainya di ujung dusun.

“Pak Wiroooo… tunggu sebentar!” Paimin berteriak memanggil tetangganya yang sudah sepuh itu. Saat itu, Pak Wiro sedang berjalan entah dari mana dan hendak membelok ke rumahnya. Pak Wiro kemudian duduk di emperan rumahnya, menunggu orang yang memanggil namanya.

“Ada apa, kamu seperti orang kesurupan begitu?” Pak Wiro menyapa tamunya.

Paimin duduk di lincak di samping Pak Wiro, mengelap keringatnya sembari mengatur napas. “Apa yang pernah diceritakan peziarah yang pernah mampir ke dusun kita dulu itu ternyata benar. Tadi saya melihatnya sendiri,” Paimin mengawali ceritanya.

“Yang mana?”

“Itu, bayangan di tengah jalan menuju hutan.”

“Kamu jangan ketularan orang gila,” Pak Wiro menyergah.

“Disambar geledek! Saya sampai memegangnya dengan tangan sendiri. Ini, tangan saya masih gemetaran,” Paimin meyakinkan lawan bicaranya.

Sudah agak lama berlalu, menjelang musim penghujan tiba, memang ada orang asing yang mampir, ngaso sebentar di dusun itu. Orang asing itu, yang mengaku dirinya seorang peziarah, baru keluar dari hutan. Si peziarah itu mengenakan pakaian serba putih, dan rambutnya yang penuh uban dibiarkan terurai panjang sampai ke pinggang. Dalam perjalanan dari hutan menuju dusun itu, si peziarah mengaku menjumpai keganjilan. Di jalan setapak itu, si peziarah mengaku melihat bayang-bayang, namun tak tahu bayangan benda apa bayang-bayang itu. Sebab, ia tak menemukan benda apa pun yang bisa menudung cahaya matahari.

Namun, warga dusun tak memercayai cerita orang asing yang mengaku sebagai peziarah itu. Warga dusun menganggapnya sebagai khayalan belaka, dan memperlakukan si peziarah itu layaknya orang-orang dari jauh yang habis bertapa di Alas Purwo. Di kedalaman hutan Alas Purwo itu memang sering dijadikan tempat bertapa oleh orang-orang yang entah datang dari mana. Sepulang dari bertapa, biasanya ada saja dari mereka yang mampir ke dusun itu, lalu menceritakan hal-hal aneh yang dialami. Warga dusun itu sudah kenyang akan cerita-cerita aneh dari para pertapa, sehingga menganggap angin lalu cerita yang dibawa oleh orang asing yang mengaku sebagai peziarah tersebut.

Setelah si peziarah meninggalkan dusun itu, datang musim penghujan. Alam diguyur hujan saban hari dalam waktu yang lama. Selama musim penghujan itu tak ada warga dusun yang melintas di jalan setapak itu untuk pergi sampai ke hutan. Setelah musim penghujan berlalu, Paimin adalah orang pertama yang melintasi jalan setapak itu.

“Kalau Pak Wiro tak percaya, ayo kita buktikan,” Paimin menantang.

Tinggalkan Balasan