TUHAN DI SAKU CELANA
Agama kini cuma stempel di kartu Diselip di dompet, kumal dan berdebu Keluarkan kalau perlu Sembunyikan kalau nafsu memburu.
Di gedung dewan, sumpah diucap lantang Di bawah meja, tangan-tangan panjang mencuri uang rakyat, rakus bukan kepalang “Demi Tuhan!” teriaknya, padahal setan yang diundang.

Kita ini bangsa munafik! Sujud di sajadah, tapi hati fasik.
KAMAR TANPA SAKSI
Kau dan dia, bukan muhrim, satu atap Katanya cinta, padahal cuma lahap Menenun dosa dalam senyap Menormalisir zina, menganggap azab itu uap.
“Ini zaman modern, Bung!” teriakmu garang Persetan dengan akad, persetan dengan larangan Kalian kumpul kebo, menumpuk nanah di badan Sampai lupa, Tuhan tak pernah pejam pandangan.
Cinta kalian plastik Murahan, gampang sobek, dan bacin.
PANGGUNG BONEKA KACA
Lihat itu artis-artis pemuja layar Kawin cerai macam ganti celana dalam Hari ini janji sehidup semati, besok saling cakar Dunia hiburan? Ah, ini kandang maksiat yang dipoles pualam.
Di hidung mereka, bubuk putih jadi tuhan baru Melayang, terbang, lari dari pilu Padahal itu tiket ekspres menuju abu Badan kering, jiwa mati, otak buntu.
Mereka idola? Cih! Mereka cuma bangkai yang diberi bedak.
PASAR DAGING
Kita berjalan di kota yang kehilangan urat malu Gadis-gadis menjajakan paha, obral tubuh Lelaki mata keranjang membeli dengan peluh Tak ada lagi sakral, semua jadi barang sentuh.
