Turats dan Dinamika Pesantren

Dengan mengamati pemilahan gerak sosial, kajian pesantren, dan output yang akan dilahirkan, maka pesantren dan kitab kuningnya benar-benar memberi ruang gerak yang fleksibel terhadap dinamika sosial yang ada.

Artinya, pesantren berhak mendapatkan peringkat munasib fi kullizzaman, sesuai dengan perkembangan sosial dari masa ke masa. Hal ini dapat kita lihat pada kurikulum yang hampir sama antara pesantren satu dengan lainnya. Kitab-kitab yang diajarkan hampir sama: diawali dengan kitab yang berkaitan dengan teks, kemudian ushul, kemudian fikih, lalu dikembangkan lagi dengan tasawuf dan tauhid.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hal ini pernah disinggung oleh Zamakhsyari Dlofier, bahwa kesamaan kitab yang diajarkan dan sistem pengajaran di lingkungan pesantren tersebut menghasilkan homogenitas pandangan hidup, kultur, dan praktik-praktik keagamaan di kalangan kiai dan santri di seluruh Nusantara. Karena homogenitas tersebut terbangun secara mapan pada tingkat tinggi di Makkah dan Madinah. (Zamakhsyari D. 2015:88).

Oleh karena terbentuknya kemapanan yang sejak dahulu, pesantren sedikit banyak pasti terpengaruh oleh pola kaderisasi atau pergerakan dalam pengajaran kitab-kitab dan ilmu pengetahuan dari Timur Tengah. Kita perlu menyepakati bahwa Timur Tengah pernah mengalami puncak keemasan dan renaisans yang sangat mewarnai perkembangan ilmu pengetahuan, baik Islam secara nilai atau secara dogma.

Tinggalkan Balasan