Pesantren selalu identik dengan pengajaran kitab klasik, dalam hal ini dikenal dengan turats. Kita sudah sangat mafhum bahwa kitab-kitab klasik itu juga dikenal dengan sebuta kitab kuning.
Pada masa awal kemunculannya, lembaga pendidikan pesantren lebih banyak mengajarkan tentang kitab-kitab klasik yang ditulis dan berpahamkan mazhab Syafi’i. Namun, dalam perkembangannya, lebih-lebih di masa kini, kitab-kitab yang dipelajari di pesantren sudah cenderung sangat beragam.

Tujuan pengajaran kitab-kitab berhaluan Syafi’i saat itu adalah untuk mendidik calon-calon ulama. Sehingga, pemahaman tentang ulama dalam hal ini adalah selayaknya guru di lembaga-lembaga formal, namun memiliki kekhususan dalam bidang keagamaan dan keberagamaan.
Pesantren di masa-masa kolonial menyampaikan kajian tentan jihad fi sabilillah, hal ini menjadi sangat wajar karena situasi dan gerak sosial yang melatarbelakanginya. Maka tidak aneh, kalau di masa yang hiruk-pikuk dengan ragam kemajuan teknologi, akses informasi yang sangat mudah, justru di pesantren banyak muncul kajian-kajian tentang tasawuf dan tauhid.
