Kita mungkin telah banyak dijejali oleh pelajaran-pelajaran, entah itu berasal dari bangku-bangku sekolah, buku-buku, seminar, nasihat atau bahkan percakapan sederhana yang hampir setiap hari kita menjumpai dan melakukannya. Hidup memang dipenuhi banyak pelajaran. Ya, bahkan bagi yang tak sempat menikmati manisnya bangku sekolah, tak usah kecil hati. Semesta, atau hidup, sebenarnya adalah sekolah tanpa bangku.
Seringkali kita itu lupa pada tujuan mengapa mesti mencari banyak pelajaran. Sedemikian maha meruahnya pelajaran tentu tak semuanya bisa kita ingat betul, apalagi paham seluruhnya. Tentunya ada beberapa saja yang kita ambil, sukai, tekuni, dan kejar dengan sepenuh hati. Ini sangat lazim sebagaimana konsentrasi kita juga punya limitasi.

Barangkali ada dari kita yang sungguh-sungguh ingin mempelajari banyak hal, mencatat banyak hal, dan mengerjakan banyak hal pula. Di jagat raya, pasti model manusia yang demikian ini juga ada, malah mungkin diri kita sendiri pernah punya ambisi yang seperti itu. Jika iya, maka ini sungguh baik dan luhur. Tapi, tentu itu keinginan yang tidak mungkin terealisasikan. Dari situlah kita akan mengenal keterbatasan, dan selanjutnya keterbatasan itu akan mengajarkan kita banyak hal.
