Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi juga terkenal sebagai ulama yang sangat produktif menulis kitab untuk menjawab persoalan-persoalan masyarakat. Setidaknya, ada 49 (ada pula yang berpendapat 45) buku dalam bahasa Arab atau Melayu yang ditulisnya. Di antaranya adalah kitab Hasyiyatu an-Nafahat ‘ala Syarah al-Waraqat, Ad-Da’i al-Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsu al-Ikhwah wa Auladi al-Ikhwan, Ar-Riyadha al-Wardiyyah fi Ushul at-Tauhidiyah wa al-Furu’i al-Fiqhiyyah, Al-Minhaj al-Masyru’ fi Mawarits, Itsbat az-Zain li Shulhu al-Jama’atain bi Jawazi Ta’addudi al-Jum’atain, An-Nukbah al-Bahiyyah, Al-Qaulu al-Mufid Syarhu al-Mathla’ as-Sa’id, Fathu al-Kabir fi Basmalati at-Tafsir, Ad-Durrah al-Bahiyyah fi ‘Ada’i Zakati, Hillul ‘Uqdah fi Tashhih al-‘Ummah, Raudhatu al-Hussab, ‘Alamu al-Hussab fi ‘Ilmi al-Hisab, Fatawa al-Khatib, Irsyadu al-Hayara fi Izalati Syubahi an-Nashara, Fathu al-Mubin Liman Salaka Thariqah al-Washilin, Al-Hawi an-Nahw, Mukhtashar an-Nahw, dan kitab-kitab lainnya yang berkenaan dengan kebahasaan, sosial-politik, tarekat, ilmu falak dan eksakta, fiqh, dan sebagainya.
Keteladanannya

Sebelum Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi berpulang ke haribaan Allah, sebagian muridnya memohon kepada sang guru agar sudi menuliskan autobiografinya untuk dijadikan teladan bagi mereka dan generasi berikutnya. Lalu, menulislah ia kitab Al-Qaulu at-Tahifu fi Tarjamati Tarikhi al-Hayati asy-Syaikh Ahmad Khatib bin Abdul Lathif Al-Minangkabawi Al-Jawi (perkataan ringkas terhadap riwayat hidup Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Lathif Al-Minangkabawi Al-Jawi).
Di dalam kitab tersebut berisi autobiografi, nasihat-nasihat atau petuah-petuah untuk anak-anaknya, para muridnya, dan untuk umat muslim keseluruhan. Sebagian isi kitab itu tertuang nasihat, “Dengan ilmu akan lahir akhlak imaniyah dan akan terhindar dari perbuatan syaithaniyah, serta jauh dari tabiat kebinatangan. Pada akhirnya, (dengan ilmu) kehidupan akan menjad bersih dan meningkat pada keadaan yang sempurna.”
Dari nasihat tersebut, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi ingin menyampaikan bahwa ilmu itu mendatangkan kebaikan dan menghindarkan keburukan, yang pada akhirnya hidup seseorang bisa menjadi mulia dan semakin dekat kepada Allah. Dengan kata lain, sebab ilmu, akal akan mengarahkan kita untuk cenderung pada perkara yang baik dan meninggalkan perkara yang buruk. Dengan ilmu, kita menjadi tahu mana bisikan imaniyah dan godaan sifat-sifat kebinatangan. Jadi, jika kita menempuh jalan kemuliaan ilmu, maka tentu kita akan mengikuti kehendak yang baik.
Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi juga berkata, “Ilmu tidak akan berkembang kecuali dengan belajar dan mengajarkannya. Termasuk suatu kebodohan besar jika orang melalaikan ilmu.” Terkait hal tersebut, tugas belajar-mengajar adalah tugas semua insan. Setiap orang punya hak untuk belajar. Maka dari itu, jangan mempersulit orang yang ingin mendapatkan pelajaran.
Dalam kitabnya itu, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi mengutip syair, “Ilmu bagaikan binatang buruan, sementara menulis adalah tali pengikatnya. Ikatlah binatang dengan tali yang kuat. Sebab, termasuk kebodohan bagimu yang menangkap buruan, kemudian kamu membiarkannya lepas bersama binatang lain.”
Menulis merupakan aktivitas yang tidak bisa lepas dari ulama. Sejatinya, mereka mengabadikan pengetahuannya dengan menulis. Jadi, meskipun mereka wafat, tulisan (karya) mereka itulah yang akan menjadikan mereka seakan hidup abadi. Hal ini, senada dengan perkataan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Dan masih banyak lagi keteladanan yang telah dicontohkan oleh Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seperti gemar berdiskusi, suka membaca, suka belajar otodidak, produktif berkarya, guru yang interaktif dengan murid, sumbangsih terhadap pembaruan Islam di Indonesia, dan seterusnya.
Demikianlah sejarah kehidupan, proses mencari ilmu, kiprah, dan keteladanan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang perlu kita hayati dan ikuti, sehingga memotivasi kita untuk menjadi santri pelopor perubahan, baik dalam lingkup keagamaan maupun pendidikan.
