Berbagai platform media digital seperti media sosial yang tidak hanya menjadi ruang untuk saling berkomunikasi dengan kenalan atau kerabat, tetapi juga kini banyak dimanfaatkan sebagai ruang-ruang berdakwah. Dakwah-dakwah virtual tersebut umumnya memang menyasar masyarakat urban, khususnya anak muda-anak muda muslim urban. Berbeda dengan masyarakat urban, masyarakat di perdesaan umumnya lebih banyak yang mentradisikan ngaji secara langsung baik di musala maupun masjid di sekitar lingkungan rumahnya masih-masing.
Meskipun demikian, kondisi beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa baik masyarakat urban maupun perdesaan kini sudah mulai akrab dengan dakwah-dakwah virtual tersebut, karena penggunaan ponsel pintar juga sudah mulai merata di berbagai daerah.

Satu hal yang pasti adalah karena pengguna media sosial banyak didominasi oleh anak-anak muda, dakwah-dakwah virtual di media sosial banyak yang memang diproduksi dan dinarasikan untuk menyasar mereka.
Berdasarkan survei Varkey Foundation pada 2017, disebutkan bahwa 93% anak muda di Indonesia percaya bahwa agama penting dan berkaitan dengan kebahagiaan mereka. Laporan Indonesia Muslim Report yang disusun oleh lembaga riset Alvara pada 2019 juga menyebutkan, ada sekitar 60% anak muda muslim di Indonesia yang mengidentifikasikan diri sebagai puritan atau ultra-konservatif.
