Tentu saja angka tersebut cukup mengkhawatirkan, sehingga dakwah virtual kini betul-betul menjadi sesuatu yang urgen dipikirkan oleh kalangan santri. Di mana, dakwah yang diunggah tidak saja memikirkan bentuk menarik, tetapi juga materi atau konten dakwah yang jauh lebih merepresentasikan keberagamaan Islam yang moderat.
Jika melihat tulisan Dawson yang berjudul The Mediation of Religious Experience in Cyberspace, tren baru yang sedang kita alami sekarang tepat dengan gambaran Dawson mengenai beragama secara digital. Ruang digital tidak saja menjadi ruang di mana agama diartikulasikan secara digital, tetapi sekaligus menjadi situs yang mempengaruhi praktik-praktik beragama di luar jaringan. Maka, tidak mengherankan jika dakwah-dakwah virtual yang dijumpai secara masif melalui beragam platform media sosial akan banyak memengaruhi keseharian anak muda muslim di Indonesia.

Oleh karena itu, dakwah virtual ini menjadi PR besar para santri, supaya mereka turut terlibat tidak hanya sebagai konsumen pasif, tetapi juga produsen aktif baik melalui tulisan, audio, maupun perpaduan audio-visual dengan memanfaatkan berbagai macam platform di media digital.
