Urgensi Memahami Aswaja di Alam Demokrasi

Organisasi keagamaan yang dinilai sesuai dengan Aswaja dan tidak menyesatkan organisasi atau kelompok lain ialah Nahdlatul Ulama (NU). NU merupakan paham keagamaan yang berideologi Aswaja serta tidak saling menyesatkan golongan lain bahkan mengkafirkan antarsesama. NU merupakan ormas terbesar di Indonesia atau dapat dikatakan hampir semua warga Indonesia mengikuti organisasi NU atau sebagai nadliyin.

Di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang begitu bebas berekspresi dan berkeryakinan dalam bingkai demokrasi ini mengakibatkan munculnya pelbagai organisasi keagamaan atau aliran, ibarat jamur di musim hujan. Aliran-aliran keagamaan tersebut ada yang lurus dan ada pula yang sesat, menyimpang, dan bertentangan dengan akidah Aswaja. Mereka memiliki sebuah konsep dakwah guna untuk menyebarluaskan paham yang mereka yakini guna menarik simpati orang lain untuk ikut dengannya. Aliran yang sesat menyesatkan yang menjadi ancaman serius bagi eksistensi Aswaja.(hal.xii-xiii).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Oleh karenanya, hadirnya buku berjudul Aswaja; Pedoman Untuk Pelajar, Guru, dan Warga NU ini dimaksudkan untuk menjawab persoalaan tersebut. Alasan tambahan yang disematkan dalam terbitnya buku ini ialah karena minimnya pemahaman dalam memahami konsep-konsep agama Islam serta persoalan kemiskinan. Sehingga dari dua aspek inilah warga NU (nahdliyin) gamang untuk ikut terjerumus ke arah aliran-aliran lainnya (hal,xii).

Bagi kalangan nahdliyin, hadirnya buku ini sangat membantu untuk memahami Aswaja secara benar. Sebab, buku ini menjelaskan tentang berbagai persoalan yang sering kali menjadi perdebatan di antara berbagai aliran. Semisal; konsep syirik, konsep bidah, pemahaman tafa’ul dan tahayul, dan pemahaman manhaj takfiri.

Yang menarik, dalam buku ini juga disertakan penjelasan seputar sejarah munculnya pelbagai aliran, karakternya, serta perbedaannya dengan Aswaja. Bagian terakhir buku ini membahas tentang amaliyah-amaliyah yang dilakukan oleh warga NU yang acapkali sering dikatakan salah oleh kelompok atau aliran lain.

Salah satu contoh kelompok atau aliran yang menyatakan bahwa dirinyalah kelompok yang benar ialah Salafi-Wahabi. Mereka mengklaim bahwa dirinya merupakan golongan yang ingin menghidupkan ajaran ulama salaf (Aswaja) yang tujuannya untuk menyelamatkan umat Islam dari “badai kesesatan” yang melanda dunia Islam saat ini. Seringkali kelompok ini menyatakan bahwa selain dari kelompok mereka tidak mendapat jaminan keselamatan. Sehingga konsekuensi dari ini ialah menafikan kelompok lain. Artinya, kelompok mereka yang benar dan lainnya sesat (hal.91).

Tinggalkan Balasan