Pembelajaran ilmu Falak yang mulai dikenalkan di pesantren akan memudahkan santri memahami paradigma unity of science. Al-Qur’an yang tidak hanya satu atau dua kali menyebutkan ayat-ayat tentang Astronomi tentu akan menjadi objek kajian ilmu Falak.
Gambarannya nanti di kelas, para santri tidak hanya mengaji tetapi juga mengkaji secara kritis kode kode sains yang ada dalam Al-Qur’an. Dulunya para santri sempat tau bahwa peradaban Islam pernah berjaya karena tidak memisahkan sains dan agama. Kini, dengan belajar ilmu Falak, mereka bisa termotivasi untuk mengintegrasikan kembali (reintergrasi) sains dan Islam.

Pintu Kolaborasi
Pengetahan ilmu Falak sangat berguna sekali untuk disebarluaskan kepada masyarakat. Sebab, meskipun kecanggihan internet semakin masif, tetapi masih banyak yang gagal paham terkait beberapa konteks ibadah yang berhubungan dengan fenomena alam.
Ada yang masih memahami bahwa arah qiblat di Indonesia itu menghadap ke Barat, padahal tidak lurus ke Barat tetap agak melenceng ke arah utara, yakni Barat Laut. Ada juga yang masih sibuk berdebat antara puasa ikut pemerintah atau organisasi tertentu di daerahnya.
Perdebatan seperti di atas biasanya dipengaruhi atas kurangnya informasi dan egoisme kelompok. Pesantren yang di dalamnya diajarkan ilmu falak dapat berkolaborasi dengan banyak elemen, baik instansi pemerintah ataupun lembaga masyarakat, dalam memberantas kebingungan masyarakat.
Pintu kolabarasi yang dapat dilakukan bisa berupa pengetahuan (bil ‘ilmi) agar tidak terjadi perdebatan kosong atau fanatisme kelompok, seperti edukasi ragam metode penentuan awal bulan. Kolabarasi yang lain juga berupa aksi nyata (bil amal), seperti membantu pengukuran arah qiblat ataupun berkontribusi melakukan hisab-rukyat untuk penentuan awal bulan Hijriah.
