Daya Magis Santriwati
Kadang yang bikin jera itu bukan hukumannya, tapi siapa yang nonton saat dihukum.

Towaf sambil menggendong kasur mungkin terdengar biasa saja. Tapi jadi luar biasa kalau ada santri putri yang lewat sambil ngelirik setengah geli. Itu semacam tamparan sosial yang lembut tapi dalam. Meninggalkan jejak bukan cuma di pundak, tapi juga di hati.
Ternyata, santri putri punya semacam “daya magis ” yang tak dimiliki oleh petugas keamanan pondok, apalagi oleh pengumuman-pengumuman kaku di mading.
Satu lirikan dari balik mukena atau senyum tipis di ujung perjalanan Subuh bisa bikin para ikhwan mikir: “Besok harus bangun sebelum bel berbunyi. Masa iya diliat dia pas gendong kasur lagi.”
Dari situ aku sadar, dalam dunia pesantren, kadang efek sosial lebih kuat dari efek hukum. Bukan karena kita takut dihukum, tapi karena tak mau kehilangan martabat di depan orang yang diam-diam kita kagumi.
Ini bukan soal cinta-cintaan. Tapi lebih ke rasa ingin menjaga citra. Karena meskipun di pondok tak ada pacaran, citra tetap dijaga. Apalagi di hadapan mereka yang bisa membuat dada deg-degan hanya dengan satu kalimat: “Eh, itu bukan yang kemarin bawa kasur, ya?”
