Apa yang menimpa Maduro memiliki resonansi sejarah dengan jatuhnya pusat-pusat peradaban Islam. Ingatan kita melayang pada masa Muluk ath-Thawaif di Andalusia. Kala itu, para pemimpin Muslim sibuk memperkaya diri dan bertikai satu sama lain, melupakan persatuan umat. Akibatnya, mereka menjadi lemah dan mudah didikte oleh kerajaan-kerajaan Kristen dari Utara, bahkan rela membayar upeti demi mempertahankan kekuasaan semu.
Demikian pula saat Baghdad jatuh ke tangan Mongol pada 1258. Kejatuhan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan didahului oleh degradasi kepemimpinan dan pengabaian terhadap pertahanan serta kesejahteraan umat. Musuh dari luar hanya perlu menendang pintu yang engselnya sudah keropos dari dalam.

Keadilan: Benteng Pertahanan Terbaik
Pelajaran terbesar (ibrah) dari tragedi geopolitik ini bagi negeri-negeri Muslim adalah tentang urgensi Keadilan Sosial. Kedaulatan negara tidak cukup dijaga dengan retorika anti-asing atau parade militer semata. Benteng pertahanan terkuat adalah Keadilan (Al-‘Adl).
Sebuah negeri yang pemimpinnya adil dan rakyatnya sejahtera akan memiliki kohesi sosial yang kuat. Rakyat akan menjadi “pagar betis” yang melindungi kedaulatan negaranya. Namun, jika ketamakan merajalela—baik ketamakan penguasa lokal maupun korporasi asing—maka negara tersebut hanyalah menunggu waktu untuk menjadi bancakan kekuatan global.
