Penulis lebih kepada pemahaman bahwa wahdatul wujud itu sama dengan manunggaling kawula lan Gusti. Tidak ada perbedaan makna, dan antara satu dengan yang satunya lagi adalah sepadan dan sama. Dan yang lebih penting untuk dipahami, bahwa keduanya adalah wujud penyatuan apa pun bentuk dan ragamnya. Menyatu dalam arti yang sesungguhnya.
Sejarah Wahdatul Wujud

Wahdatul wujud selalu dikaitkan dengan Ibnu Arabi, karena Ibnu Arabi dianggap sebagai penggagasnya. Meskipun wahdatul wujud dikaitkan dengan aliran Ibnu Arabi, tetapi sebenarnya wahdatul wujud sudah diajarkan oleh beberapa sufi sebelum Ibnu Arabi. Akan tetapi di dalam berbagai penjabaran terkait dengan wahdatul wujud, Ibnu Arabi dianggap yang paling berjasa dan berpengaruh terhadap konsep kesatuan wujud ini.
Sufi sebelum Ibnu Arabi yang membuat pernyataan yang dianggap mengandung doktrin wahdatul wujud adalah Abu Hamid Al-Ghazali. Dalam sebuah karyanya, Al-Ghazali berkata “sesuatu yang maujud dengan sebenar-benarnya adalah Allah Swt, sebagaimana cahaya yang sebenar-benarnya adalah Allah Swt”, dan “tidak ada wujud kecuali Allah dan wajah-Nya, dengan itu pula, maka segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya secara azali dan abadi”.
Konsep yang dikatakan Al-Ghazali ini dipandang sebagai prinsip wahdatul wujud. Karena frasa “sebenar-benarnya cahaya adalah swt”, dan “tidak ada wujud kecuali Allah dan wajah-Nya”, merupakan dasar hakikat konsep wahdatul wujud.
Ma’ruf Al-Karkhi, salah satu sufi yang hidup empat abad sebelum Ibnu Arabi, adalah orang pertama yang mengungkapkan syahadat dengan kata-kata “tiada sesuatu pun dalam wujud kecuali Allah”.
Itu artinya bahwa peletak dasar wahdatul wujud pertama bukan Ibnu Arabi, akan tetapi ada beberapa sufi sebelumnya yang telah mengungkapkan konsep wahdatul wujud. Mungkin, penjelasan dan penalarannya hingga pengaruh konsep ini baru tersebar luas pada masa Ibnu Arabi. Maka kemudian Ibnu Arabi dianggap atau dipandang sebagai penggagas konsep wahdatul wujud.
Tokoh yang cukup berperan mempopulerkan istilah wahdatul wujud adalah Ibnu Taimiyah, seorang pemikir dan ulama Islam guru dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Walaupun, Ibnu Taimiyah menggunakan istilah wahdatul wujud justru untukmengkritik doktrinnya. Tetapi, istilah ini sudah banyak digunakan oleh kalangan sufi di ajaran tasawuf.
Ibnu Taimiyah adalah salah satu ulama yang tidak mengakui konsep wahdatul wujud. Oleh karena itu, wahdatul wujud merupakan konsep yang menjadi perdebatan hingga saat ini. Akan tetapi perbedaan pendapat tidak serta-merta meniadakan adanya konsep, termasuk konsep wahdatul wujud itu sendiri.
